Tampilkan postingan dengan label Eduardus Salvatore. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Eduardus Salvatore. Tampilkan semua postingan

Minggu, 07 Juni 2009

Tuhan itu tak Ada?


Seorang konsumen datang ke tempat tukang cukur untuk memotong rambut dan merapikan brewoknya. Si tukang cukur mulai memotong rambut konsumennya dan mulailah terlibat pembicaraan yang mulai menghangat.

Mereka membicarakan banyak hal dan berbagai variasi topik pembicaraan,
dan sesaat topik pembicaraan beralih tentang Tuhan. Si tukang cukur bilang,
" Saya tidak percaya Tuhan itu ada".
"Kenapa kamu berkata begitu ???" timpal si konsumen.

"Begini, coba Anda perhatikan di depan sana, di jalanan.... untuk menyadari bahwa Tuhan itu tidak ada. Katakan kepadaku, jika Tuhan itu ada, Adakah yang sakit??, Adakah anak terlantar?? Jika Tuhan ada, tidak akan ada sakit ataupun kesusahan. Saya tidak dapat membayangkan Tuhan Yang Maha Penyayang akan membiarkan ini semua terjadi."

Si konsumen diam untuk berpikir sejenak, tapi tidak merespon karena dia
tidak ingin memulai adu pendapat. Si tukang cukur menyelesaikan pekerjaannya dan si konsumen pergi meninggalkan tempat si tukang cukur. Beberapa saat setelah dia meninggalkan ruangan itu dia melihat ada orang di jalan dengan rambut yang panjang,berombak kasar mlungker-mlungker-istilah jawa-nya", kotor dan brewok yang tidak dicukur. Orang itu terlihat kotor dan tidak terawat.Si konsumen balik ke tempat tukang cukur dan berkata," Kamu tahu,sebenarnya TIDAK ADA TUKANG CUKUR." Si tukang cukur tidak terima," Kamu kok bisa bilang begitu ??"."Saya disini dan saya tukang cukur. Dan barusan saya mencukurmu!"
"Tidak!" elak si konsumen. "Tukang cukur itu tidak ada,sebab jika ada, tidak akan ada orang dengan rambut panjang yang kotor dan brewokan seperti orang yang di luar sana", si konsumen menambahkan.

"Ah tidak, tapi tukang cukur tetap ada!", sanggah si tukang cukur. " Apa yang kamu lihat itu adalah salah mereka sendiri, kenapa mereka tidak datang ke saya", jawab si tukang cukur membela diri."Cocok!"-kata si konsumen menyetujui."Itulah point utama-nya!.

Sama dengan TUHAN, TUHAN ITU JUGA ADA !, Tapi apa yang terjadi... orang-orang TIDAK MAU DATANG kepada-NYA, dan TIDAK MAU MENCARI-NYA. Oleh karena itu banyak yang sakit dan tertimpa kesusahan di dunia ini."
Si tukang cukur terbengong !!!!

Minggu, 29 Maret 2009

Sejarah Panggilan

Panggilan : Sebuah Proses Panjang
Eduard Salvatore da Silva - Desember 2008

Ketika ku mulai untuk menggambarkan apa yang disebut panggilan bagiku, justru yang muncul adalah “sulit diungkapkan dengan kata-kata”. Ya, memang bagiku panggilan adalah proses pencapaian tujuan hidup manusia yang dijalani dan diperjuangkan selama proses hidup itu sendiri. Jadi, kalau sekarang saya mendeskripsikan panggilan, itu adalah satu proses dinamika yang mengasyikan.
Tak terasa aku mengenal istilah panggilan hidup kurang lebih dua setengah tahun ini. Kami yang didik dalam suatu kesatuan komunitas yang disebut seminari, intinya mengarahkan seseoarng untuk mencapai panggilan hidup yang paling sesuai bagi hidupnya. Aku, yah…ketika aku melihat motivasi awalku masuk dan bergabung dengan komunitas ini amat sederhana. Saya hanya memikirkan hal-hal pratis dan hal-hal yang bisa membuat saya terlihat keren jika saya bisa sekolah mandiri, berasrama, mampu mengatur diri sendiri, tidak tergantung keluarga lagi. Aku yakin akan mampu menemukan sesuatu yang mungkin bisa jadi gambaran besar diriku kelak, di masa yang akan datang.
Karena kebodohanku, dimana mataku terhalang oleh motivasi-motivasi yang semu ini. Ketika saya memiliki satu momen menyadari apa yang akan mulai saya jalani (masuk seminari maksudnya), saya akan bergabung dengan orang-orang dewasa, bertanggungjawab, mandiri dan terpanggil untuk berkarya khusunya jadi sorang imam. Ah……imam seakan saya baru tersadar bahwa ternyata seminari adalah tempat pendidikan, khusunya bagi para calon imam. Namun setelah kurenungkan kembali ya…. Ikut dan lihatlah.......seperti kata Yesus sendiri.
Dengan ini dimulailah perjalananku di tempat yang terasa asing bagiku. Apa ya yang bisa menggambarkan perasaanku saat itu. Beberapa bulan pra-masuk seminari, saya tergerak untuk membiasakan diri melakukan kegiatan yang akan saya jalani, misalnya belajar cuci baju, setrika, bersih-bersih rumah dan kegiatan lainnya. Dari hal kecil macam itu, ternyata orang-orang di rumah saya kaget dengan kesungguhan saya mempersiapkan diri. Kalau dipikir-pikir saya sendiri bingung dengan motivasi serius tapi santai yang muncul dari benakku. Tetapi semua itu menjadi bumbu penyedap motivasiku, dalam menapakai segala tantangan.
Tanggal dua belas Juli tahun dua ribu enam menjadi salah satu momen terpenting dalam hidupku. Ya, saat itulah ku memasuki masa-masaku di seminari, tempat tinggal baruku. Proses MOSB yang begitu beratnya menjadi bumbu manis bagiku mengantarku masuk sebagai komunitas baru yang tidak takut akan segala tantangan yang akan menghadang. Setelah kurenungkan kembali, ternyata apa yang kujalani selama MOSB menggambarkan apa yang akan kualami dalam hidupku di tempat ini.
Proses tiga bulan pertama terasa jelas menjadi beban sekaligus berkat tebesar yang kuterima. Saya jadi semakin menyadari pentingnya keluarga, teman-teman dan orang-orang terdekat yang selama ini mungkin kurang saya hargai keberadaannya. Mereka sungguh menjadi motivasi saya dan memang pada masa ini saya menyadari pentingnya peran mereka dalam hidupku. Namun, satu hal baru yang saya peroleh disini adalah kenyataan bahwa disini saya memiliki puluhan saudara, kakak baru, ya,….komunitasku dari satu angkatan KPP (12 orang ini) + kelas I, II dan III. Saat-saat kangen, rindu, sedih merupakan momen untuk saling menguatkan dan meneguhkan. Toh, akhinya momen ini jadi kenangan yang sangat berarti bagiku pribadi.
Momen tiga bulanan selesai bisa dibilang ini menjadi titik balik motivasiku yang dulu amat cetek, kini semakin dimurnikan. Ya, saya semakin memahami makna panggilan hidup yang sedang saya jalani ini. Saya melihat ada sesuatu yang unik dari pribadi seorang kaum religius yaitu ketenangan dan ketulusan hatinya memberi apa yang dia miliki, yaitu dirinya sendiri. Semangat ini yang memurnikan motivasi saya bahwa jadi imam bisa menjadi salah satu cara saya memberikan diri bagi kepentingan orang lain. Ingin rasanya melihat orang lain tersenyum dan tentunya saya merasakan suatu perasaan yang amat membahagiakan ketika saya mampu memberikan kebahagiaan juga kepada orang lain. Dari sini saya melihat bahwa sosok imam juga penting bagiku dan bagi orang-orang di sekitarku. Dari sinilah, jalanku mulai kelihatan.
Intinya selama dua setengah tahun aku menjalani segalanya, saya menemukan kebahagiaan tersendiri, mampu mengalami pengalaman-pengaaman unik, bertemu dengan berbagai macam orang, mampu merasakan saat-saat gembira dan saat-saat susah jauh dari keluarga dan banyak lagi. Semua itu menjadi goresan berarti dalam kehidupanku dan akan terus saya ukir untuk mencari jawaban yang paling bijaksana atas pertanyaanku selama ini, “kemana ku harus melangkah?” Bagaimana caranya saya akan berusha sebaik mungkin menjalani segalanya untuk memurnikan motivasiku hingga menemukan apa yang kucari sampai satu saat ku berkata: “Memang ini Jalanku…”

Minggu, 15 Maret 2009

Sudahkah kita Berbahasa dengan Baik?


Zaman telah berubah dan tuntutan pun semakin banyak. Efek dari apa yang dinamakan globalisasi seakan-akan menghilangkan identitas kita sebagai orang Indonesia.

Pada kesempatan, saya hanya ingin membahas kecendrungan masyarakat kita, khusunya para remaja yang tak mampu menggunakan bahasa persatuan kita, bahasa Indonesia. Lebih parahnya lagi, seringkali kita menggunakan bahas Indonesia campur setengah ke-Inggris-an.

Mungkin kata-kata seperti : Sorry, By the Way (BTW), Oh my God (OMG), dsb sering kita gunakan dalam komunikasi kita. Nah, kata-kata Inggris setengah mateng inilah yang seakan-akan menghilangan kecintaan kita kepada bahasa kita sendiri.

Sebenarnya ketika kita berbicara tentang bahasa Indonesia, ada banyak alasan yang sebenarnya bisa membuat kita bangga. Tahukah kamu bahwa bahasa Indonesia itu punya kemampuan untuk menyatukan bangsa Indonesia yang besar ini?

Sejarah membuktikan bahwa tanggal 28 Oktober 1928 menjadi hari penegasan bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu. Indonesia yang terdiri dari berbagai suku, budaya, adat dan istiadat dapat disatukan dengan hal ini. Kekayaan bangsa kita dapat disesuaikan dengan bahasa kita bersama.

Sekarang pertanyaannya, mengapa kita seakan malu berbahasa Indonesia? Semoga ini jadi permenungan kita bersama!

Senin, 02 Maret 2009

Refleksi Live-in

Segenggam Kacang Persahabatan dari Bumi Desa Putra

Satu lagi peristiwa kualami dengan segala pergulatan yang ada. Sungguh saya amat bersyukur dapat mengalami pengalaman yang menakjubkan, hidup merasakan dan menjadi seperti orang lain yang ternyata mungkin tak seberuntung diriku. Memang, salah satu hal yang paling saya syukuri selama saya masuk seminari adalah bahwa cakrawalaku dibuka, melihat realitas dunia yang ternyata begitu kompleks, variatif dan reflektif. Semua yang saya lakukan ini tentunya dimaksudkan agar kumampu mensyukuri segala yang kumiliki dan kujalani hingga saat ini. Lalu apa yang kupetik kali ini?
Aku coba menggali segalanya di sebuah Panti Asuhan. Ya, Desa Putra. Jujur, mulanya aku cukup kecewa ditempatkan di tempat ini. Aku pikir, tantangan dan pengalaman yang didapat mungkin tidak sebanyak di tempat live in lain. Namun satu hal yang perlu saya ingat adalah saya sudah mulai belajar, bahwa terkadang lingkungan berjalan tidak sesuai dengan yang kita harapkan, tetapi jangan sampai hal ini menghentikan langkahku untuk belajar dari orang lain.
Panti Asuhan Desa Putra. Sebuah tempat dimana rasa kekeluargaan timbul dari masing-masing anggotanya. Yang namanya panti asuhan, berarti anak-anak yang tinggal disana diasuh karena berbagai halangan dan hambatan yang dialami orangtua, sehingga mereka tak mampu mengasuhnya sendiri. Tidak sedikit dari mereka yang bahkan tak pernah melihat orang tuanya sejak lahir. Dari sini saja, aku sudah menemukan kenyataan pahit hidup seorang anak kecil yang masih dipenuhi aura kepolosan. Bertolak dari hal ini, aku ingin sedikit mengenal, mengamati dan coba ikut merasakan apa yang menjadi pergulatan hidup mereka selama ini.
Satu hal yang kupelajari selama saya melakukan kegiatan seperti ini adalah belajar untuk berani menyapa orang sang pemilik tempat. Hal ini juga saya lakukan di sini. Sayangnya hal ini tidak berjalan selancar yang saya kira. Melihat wajah para pengasuh, pastinya saya cukup gentar dengan tampangnya yang cukup menakutkan. Hal kecil seperti ini yang membuatku enggan menyapa. Namun aku yakin, pastinya mereka berhati mulia karena memiliki dedikasi bagi anak-anak yang bahkan tak mampu memperoleh perhatian dari orang tuanya sendiri. Saat hari pertama hampir berkahir, ada salah seorang ibu yang mengeluh kepada kami karena rasanya mereka para pengasuh kurang disapa sebagai yang empunya rumah,. Saya malah keasyikan langsung berbaur dengan komunitas anak di sana. Sebuah teguran yang cukup reflektif dimana dari sini kami bisa berintrospeksi tentang bagaimana ku harus bersikap. Nah, pembicaraan ini sungguh membuka cakrawalaku, bahwa tidak ada orang yang tidak senang disapa. Dari sini aku belajar untuk senantiasa mau dikritik, sejauh hal ini membantuku. Jadi, mulailah saya menyapa mereka dengan senang hati dan nyatanya mereka pun menyambutnya dengan senang pula.
Mulanya jujur aku bingung untuk memulainya. Muncul pertanyaan dalam diriku : “Apa yang harus kulakukan dan bagaimana cara ku memulainya?” Keraguan ini seakan disirnakan oleh seorang anak yang menghampiriku dan menanyakan tentang diriku. Nah, ternyata anak sekecil itu pun lebih berani memulai lebih dahulu, mau mengenal orang lain. Mulanya aku jadi malu sendiri, namun dari sini aku mulai berani untuk lebih akrab dengan mereka. Sekilas pandanganku mereka anak yang mandiri, penuh semangat, powerful, penuh mimpi, dan tak mudah menyerah. Dari sifat-sifat dasar mereka, aku melihat banyak kekurangan dariku yang justru ada dalam diri mereka. Mungkin banyak orang bilang sikap mereka akan liar sebagai anak tak ber-orangtua, tetapi aku melihat realitas ini sungguh dalam diri mereka. Mereka sungguh punya harapan besar untuk membahagiakan anak mereka sewaktu dewasa nanti.
“Hidup ini keras bung!” Ungkapan ini sangat terasa dan nampak jelas dalam kehidupan di sini. Mereka anak-anak yang bertahan dengan dirinya sendiri. Seberapa besar pun peran pengasuh, tetap tak mampu menggantikan sepenuhnya peran orangtua yang seharusnya menyalurkan kasih sayangnya kepada mereka. Aku menemukan satu momen perkelahian antar-anak kelas 2 SD. Sungguh mengherankan melihat bagaimana mereka saling baku hantam tanpa ada tangis saperti anak kecil pada umumnya. Hidup keras di asrama memaksa mereka untuk menyelesaikan masalahnya sendiri. Ketika ancaman datang menghimpit diri, sudah selayaknya mereka membentuk pertahanan diri, agar tidak kalah sebelum berperang.
Sebagai sesama anak asrama (mereka anak panti asuhan dan saya anak seminari), tentunya kami punya berbagai perasaan yang mungkin sama kami rasakan. Aku melihat jelas bagaimana mereka terbiasa untuk makan daging, mungkin hanya 1 minggu sekali. (bandingkan dengan kami, yang kira-kira seminggu makan daging hingga 5 kali bahkan 10 kali). Ironisnya, ketika ada pesta atau sumbangan, mereka tidak senorak diriku saat pesta di seminari. Ketika aku melihatnya, terkadang aku jadi malu sendiri. Orang sepertiku yang mungkin berkecukupan, ternyata lebih kampung dibanding orang yang biasa saja bahkan kekurangan.
Apa yang kukerjakan di sana? Prinsipnya kami diberi kebebasan untuk mengamati, hidup dan merasakan segala seuatu yang terjadi di sana. Tentunya saya dan teman-teman tak hanya tinggal diam ketika mereka semua sekolah. Kami membantu sebuah pekerjaan kecil yang ternyata begitu berkesan, menyetrika baju. Sebuah pekerjaan yang amat sederhana bukan? Nah, di sini kami bisa saling sharing dan berbagi cerita dengan ibu dapur dan orang belakang panti. Mereka adalah orang-orang hebat yang mau membaktikan diri menjadi pelayan bahkan bagi anak-anak yang kekurangan kasih sayang dan perhatian. Ini yang juga jadi salah satu motivasiku, bisa berguna bagi orang kecil khususnya. Selain itu aku juga membantu mengajarkan adik-adik untuk menyelesaikan tugasnya dari sekolah. Satu hal yang cukup mengkawatirkan adalah, justu anak panti yang punya jadwal belajar teratur, malah kalah dibanding anak luar. Mereka kalah karena siswa luar mengikuti les tambahan, sedangkan mereka tidak. Belum lagi motivasi mereka belajar belum jelas, semata-mata agar tak dimarahi pengasuh. Sejenak merenung, seringkali aku juga melakukan hal yang sama, melakukan sesuatu atas dasar tekanan dan dorongan dari luar, bukan karena motivasi pribadiku.
Pokok inspirasi dan refleksiku adalah rasa persahabatan yang muncul dari kacang goreng, khas buatan ibu dapur panti. Hal kecil ini yang justru menjadi alat pemersatu kami. Saat kami datang, kami diberi satu mangkok penuh kacang goreng, sedangkan anak panti hanya dapat segenggam. Nah, dengan membagikan kacang favorit anak panti ini, saya bisa masuk ke pribadi mereka satu per satu : ngobrol sambil ngemil kacang bareng. Wow, sungguh menakjubkan pengalaman dan kisah mereka yang mungkin tidak kujumpai di tempat lain. Segenggam kacang persahabatan yang tak akan kulupakan dan justru menjadi jembatan yang baik bagi kami. Memang, segala komunikasi membutuhkan jembatan-jembatan kecil, sehingga terjadi suatu relasi yang erat satu sama lain.

Dari semua hal yang kuterima di sana, aku mampu melihat bahwa tidak selama segala kenyataan pahit yang kuterima dalam hidup menjadi batasan untuk mewujudkan mimpi. Kenyataan bahwa orang tua mereka tak mampu memberikan cinta sepenuhnya membuatku tahu arti sebuah kasih sayang yang sungguh menjadi perhiasan hidup manusia. Saya semakin yakin bahwa cinta memulai segalanya, dan itulah yang menjadi motivasi awal Tuhan menciptakan diriku dan semua makluk di dunia. Keterbatasan mereka sebagai anak panti membuat mereka memiliki semangat juang yang jauh lebih tinggi, demi menjadi manusia yang berguna minimal bagi dirinya sendiri. Aku sungguh tertegun dengan segala realita yang mereka alami. Kini, aku punya semangat lebih untuk senantiasa setia mengembangkan diri, demi masa depanku.
Sekian

Eduard Salvatore da Silva
Seminari Wacana Bhakti – Kolese Gonzaga
Jakarta 2009

Profile

NAMA :Eduardus Salvatore da Silva
PANGILLAN :Edu,Adi,
TTL : Jakarta, 4 Mei 1991
Paroki : Kramat
Hobi :Membaca dan Menulis
Cita-Cita :


Tentang EDU: