Senin, 02 Maret 2009

Refleksi Live-in

TIGA HARI DALAM PERJALANAN

Langkahku semakin berat
Berjalan menyusuri
Mondar-mandir di keramaian kota
Hati yang binggung lamaran kerja ditolak
Enggak tahu kenapa mesti kurang syaratnya
Andai saja aku punya harta yang melimpah
Aku takkan terhina
Pikir-pikir daripada ku melamar kerja
Lebih baik ku melamar kamu


Sebuah lagu yang sederhana tapi mempunyai makna yang lumayan dalam bagi perjalanan warga Ibu Kota Jakarta. Lagu ini sempat aku nyayikan saat aku menjadi pengamen di lampu merah Kalimalang dalam rangka menjalani Live in. Hidup di kota Jakarta tidaklah mudah,apalagi bagi anak-anak yang harus berjuang sendiri mencari nafkah.Ternyata banyak orang yang tidak lebih beruntung daripada saya pribadi,itulah salah satu hal yang aku dapatkan dari perjalanan Live in yang berlansung selama empat hari tiga malam.Perjalanan Live in ini aku anggap juga sebagai perjalananku untuk merefleksikan hidupku dan perjalanan panggilanku.
Awal Perjalanan Singkat
Aku memulai perjalanan Live in dari tempat aku tinggal yaitu di Seminari Menengah Wacana Bhakti.Aku ditempatkan di sebuah tempat yang bernama sanggar akar.Tidak banyak persiapan yang aku lakukan sebelum hari keberangkatan,aku hanya berpesan dalam diriku bahwa aku harus mempunyai niat yang benar-benar sungguh,di tempat yang asing aku adalah orang baru,aku harus bisa menghormati mereka yang memang tinggal di tempat yang aku singgahi istilahnya “Aku masuk lewat pintu mereka tapi keluar dari pintu yang Aku punyai”.Aku sudah siap dalam perjalanan ini.
Perjanan Live in dimulai,aku berangkat bersama dua orang temanku yang lain yang juga ditempatkan di tempat yang sama bersama aku.Sebelum berangkat disempatkan dulu untuk berdoa di depan Goa Maria tempat aku tinggal.Aku sempat khawatir karena hujan tiba-tiba mengguyur saat aku sampai di tengah perjalanan untuk mencapai tujuan.Salah satu hal yang menjadi kekhawatiran aku sebelum berangkat adalah cuaca yang tidak menentu,hujan yang bisa datang sesaat-saat aku takutkan mengganggu rutinitasku nanti dalam menjalani perjalanan Live in,tapi saat aku coba untuk pahami hujan adalah sebuah bumbu dalam perjalananku ini,dimana hujan semakin membuat aku memahami bahwa Tuhan masih bekarya dalam dunia ini.
Aku tiba ditempat tujuan dengan disambut oleh salah satu pebimbing disana,kebetulan seseorang yang harus aku temui belum tiba sehingga aku menunggu beberapa saat.Sesaat aku menunggu,aku melihat sebuah ruangan yang terbuat dari batu bata merah,di dalam ruangan itu terdapat sekumpulan anak kecil yang sedang belajar.Mereka semua belajar sambil bercanda dan sangat lucu sekali,dalam pikiranku berkata bahwa mereka adalah anak-anak yang kurang beruntung tapi masih ada kegembiraan di antara mereka.Sehabis makan siang orang yang aku cari tiba,orang yang aku cari itu adalah Pak Susilo atau yang lebih akrab dipanggil Pakde seorang pemimpin di Sanggar Akar.Aku dan teman-temanku berbincang-bincang cukup lama intinya dia ingin aku lebih mengenal anak-anak sanggar yang terdiri dari bermacam-macam orang dengan karakter yang berbeda-beda di dalamnya.Dia ingin aku melihat hal yang selama ini tidak pernah aku lihat.
Sanggar Akar dalam cerita
Ternyata benar dalam perjalanan Live in ini aku melihat banyak hal yang sebelumnya belum pernah aku temui.Sanggar Akar adalah sebuah rumah singgah bagi anak-anak jalanan atau pinggiran.Anak-anak yang masuk ke dalam sanggar Akar masuk dengan masalah yang berbeda-beda,dari ketidakmampuan keluarga,kabur dari rumah karena kekerasan yang di dapat dari orang tua bahkan ada yang memang tak tahu keluarganya siapa.Di Sanggar aku dan dua orang temanku bertemu dengan seorang perempuan yang berumur sekitar 20 tahun yang membawa aku dan teman-teman memulai perjalanan yang aku bilang sebuah petualangan untuk mengerti perjuangan hidup yang sesungguhnya.Dia mengatakan hal yang menarik bagi diriku begini katanya”coba bayangkan berapa banyak tempat penampungan sosial bagi anak-anak jalanan tapi masih berapa banyak anak jalanan yang masih di jalanan berarti ada yang salah dari tempat penampungan sosial itu”.Dia memang sudah biasa untuk menjadi pembimbing bila ada yang Live in di Sanggar Akar.Satu hal yang menarik dalam dirinya dia mempunyai sejuta pengalaman hidup yang sangat menyetuh bagiku.Dimana dia yang sehari-hari menjadi pengamen setelah pulang sekolah.Awalnya dia tinggal di keluarga yang mampu tapi karena musibah kebakaran itu mengubah hidupnya dan keluarganya.Orang tuanya menjadi sering memukulinya apalagi setelah saudari perempuanya hamil di luar nikah,karena tidak tahan dia kabur dari rumah dan hidup dijalanan.Di jalanan dia belajar banyak hal dan mendapatkan banyak hal dari mencuri,menjadi copet bahkan di pernah menusuk seseorang tapi itu semua dilakukanya untuk bertahan hidup.Dia mengatakan bahwa hidup dijalanan harus nekat kalau tidak dia yang mati kita yang mati.Setelah mendengar banyak ceritanya untuk hari selanjutnya aku dan teman-teman diajak untuk berpetualang merasakan lansung turun untuk melihat kenyataan hidup dan kerasnya dunia.
Hidup dengan banyak orang dan bermacam-macam karakter dalam satu tempat bukanlah hal yang mudah apalagi datang dari latar belakang keluarga yang berbeda-beda dan masuk ke dalam Sanggar dengan masalah yang berbeda-beda juga.Di depanku sebagai tamu yang berkunjung memang mereka kelihatan sopan-sopan saja dalam artian bagi mereka yang peduli dengan kedatanganku akan dengan mudah untuk sekedar menyapa aku dan bagi mereka yang memang cuek akan cuek dengan kedatanganku seakan mereka mempunyai dunianya sendiri.Saat pagi aku sempat mengobrol dengan seorang remaja seusiaku,dengan sopan ia memanggil aku dengan panggilan Kak yang menunjukkan bahwa ia peduli dengan orang disekitarnya.Banyak hal yang aku obrolkan bersama dengan dia dari kenapa dia masuk sanggar sampai perjuanganya hidup sebagai pengamen yang setiap hari di harus berantem dengan pengamen lain.Satu hal yang menarik bagi aku,dia bercerita tentang pengalamanya hidup dengan berbagai macam karakter di Sanggar,Dia mengatakan bahwa hidup di sanggat itu makan hati terus kerjaanya karena dengan teman kadang bisa jadi teman lalu kadang-kadang jadi musuh dalam waktu yang cepat.Dia bercerita bagaimana lemari penyimpanannya selalu dibobol oleh teman-temanya padahal sudah digembok dan itu sudah terjadi berulang kali,bagaimana setelah dia pulang mengamen teman-temanya selalu meminta uang kepada dirinya untuk membeli rokok.Di lain kasus aku melihat bagaimana anak yang lebih tua mengganggu anak yang lebih kecil dengan hal sudah kelewatan dan aku menyaksikanya itu sendiri bahkan yang lebih tua akan marah bila ada teman seusianya yang memperingatkan. Suatu hal yang menarik bagi aku ternyata setiap anak di sanggar mempunyai masalahnya sendiri-sendiri dengan teman-temanya lalu bagaimana mereka menghadapi itu,bahkan dari mereka kadang harus menyelesaikanya dengan cara kontak fisik yaitu berantem bahkan sempat ada yang memakai senjata tajam.Sebuah hidup yang memang keras bagi anak-anak yang semestinya belum merasakan itu semua. Ternyata banyak orang yang tidak suka kalau seorang anak jalanan hidup layak khususnya dari anak jalanan yang berpendapat bahwa hidup layak hanya menyusahkan saja.Beberapa anak jalanan dari luar kadang kala mengganggu anak jalanan yang berada di dalam.
Ternyata masih ada orang yang mau peduli dengan hidup anak-anak yang berada di sanggar.Banyak dari mereka yang memberi bantuan secara rutin kepada sanggar.bantuan yang mereka berikan kepada anak-anak berbagai macam ada yang memberikan bantuan berupa dana dalam bentuk barang seperti buku-buku atau perlengkapan balajar lainya.Ada juga yang membantu dalam tenaga seperti tenaga dalam mengajar beberapa macam pelajaran demi mengembangkan pendidikan anak-anak.Pendidikan memang menjadi hal yang penting dalam mencapai sebuah hal karena dengan pendidikan kita bisa melakukan banyak hal.
Musik menjadi pemersatu mereka.Di sanggar anak-anak yang sudah mulai dewasa memegang alat,walau alat-alat yang dimainkan sederhana tapi itu menjadi simbol pemersatu mereka.Dengan musik mereka seringkali mengisi acara untuk memperkenalkan sanggar.
Terjun ke dalam suasana ,Cerita dan Pengalaman
Terjun ke dalam suasana dan cerita itulah yang aku lakukan untuk mengetahui lebih dalam kehidupan mereka yang memang aku cari.
Mengajar merupakan salah satu kegiatan yang aku lakukan disana,karena kebetulan jurusanku di SMA ilmu Sosial maka aku di sanggar mengajar mata pelajaran geografi.Aku ditugaskan untuk mengajar anak-anak SMP,karena merasa aku mampu aku melaksanakanya.Saat aku masuk kesebuah ruangan baca yang dijadikan kelas ternyata mereka semua bukanlah asli anak-anak SMP tapi mereka anak-anak yang seumuran denganku bahkan ada yang lebih tua.Mereka semua bercerita bahwa mereka putus sekolah sejak kecil sehingga saat di sanggar baru kembali mendapat pendidikan.Saat aku mengajar aku sempat ragu tapi aku beranggapan bahwa aku bisa,sunguh suasana belajar yang sebenarnya bukan seperti mengajar SMP karena sebagian mereka masih buta akan pelajaran yang aku ajarkan.aku tahu mereka sangat antusias dengan pelajaran,itu bisa dilihat dari bagaimana mereka bertanya akan hal-hal yang sebenarnya sangat umum dan bahkan bukan waktunya lagi mereka menanyakan hal itu.Situasi belajar memang dikondisikan santai agar mereka tidak bosan untuk belajar dengan ada snack bahkan beberapandari mereka ada yang merokok saat pelajaran berlansung.Mengajar merupakan pengalaman menarik bagi diriku pribadi karena aku bisa membagi-bagikan penegetahuan yang aku miliki dan pengetahuan itu banyak berguna bagi mereka itu membuat aku merasa bisa berarti dan membantu mereka dalam beberapa hal.Mungkin memang aku tidak bisa membantu mereka secara materi tapi mungkin dengan beberapa bakat yang aku miliki aku bisa membantu mereka.
Seperti yang pernah aku katakan di atas bawah banyak sekali panti sosial atau penampungan anak-anak jalanan di Jakarta ini tapi berapa banyak anak jalanan yang masih hidup di jalanan berarti ada yang salah dari panti sosial.Dari cerita salah satu anak jalanan bisa diungkapkan bahwa panti sosial atau panti anak jalanan tidak seperti yang orang biasa bayangkan yang isinya mengurus anak jalanan dengan layak.Dari cerita yang saya dengar bahwa kebanyakan panti sosial memperlakukan anak jalanan tidak dengan layak mereka hanya menampung saja dan tidak secara serius mengurusi anak-anak jalanan.Suatu contoh yang saya dapat seperti ini misalnya,dalam tiga bulan berarti wanita mendapat menstruasi sebanyak tiga kali dan di dalam penampungan anak jalanan itu tidak diberikan pembalut sama sekali sehingga banyak darah yang berceceran di lantai.contoh diatas hanya merupakan salah satu contoh yang terdapat dari sekian banyak hal yang terjadi terkait dengan pelayanan yang tidak sesuai.Jadi bagaimana anak jalanan banyak yang tidak kabur dari penampungan sosial bila tidak pelayanan yang layak.Sebenarnya hal ini sudah disampaikan kepada pihak pemerintah atau lembaga sosial tapi seakan mereka semua tutup mata dan telinga akan ketidakadilan sosial yang terjadi.Sungguh sebenarnya ini sudah melanggar HAM karena memberlakukan manusia dengan tidak layak dan harus segera ditindak lanjuti kalau tidak semakin banyak anak jalanan yang terlantar dan tidak mempunyai masa depan yang baik.
Peraturan itulah yang selalu mereka keluhkan.Hidup di jalanan memang tidak mempunyai aturan yang membatasi mereka,walupun di jalanan ada tata etika antar anak jalanan tapi mereka bisa saja melanggar bila mereka tidak suka.Hidup di sebuah sanggar tidak seperti di jalanan,hidup di sanggar mempunyai sebuah aturan yang pasti dan tidak dapat dilanggar bila dilanggar berarti mereka harus keluar dari sanggar atau tempat penampungan sosial.Peraturan memang biasanya menjadi sebuah masalah karena memang seseorang yang tidak biasa dengan aturan pasti akan merasa sulit untuk menyesuaikan dan butuh waktu yang lama untuk bisa menyesuaikan.Hal ini pun pernah saya rasakan karena saya tinggal di asrama dan mempunyai peraturan-peraturan yang ketat.Saya butuh waktu yang lumayan lama untuk menyesuaikan dan menyukai peraturan dan menganggap peraturan itu bukan sebuah beban tapi sebuah kesetiaan.
Sekejam-kejamnya orang tua pasti tidak akan rela bila darah dagingnya sendiri menderita,tapi bagaimana bila ada orang tua yang sampai tega untuk menyiksa anaknya dan menyuruh anaknya bekerja mencari uang karena tidak betah sampai-sampai si anak tidak betah dan kabur dari rumah dan menjalani hidup selanjutnya di jalan.Kekerasan dari Orang Tua membuat kebanyakan anak memilih untuk pergi dari rumah.Dari yang bisa saya lihat kekerasan dari orang tua terjadi akibat pendidikan yang rendah dan ekonomi yang rendah juga.Banyak dari Orang Tua tidak mengerti kekerasan yang dilakukan pada anak dibawah umur bisa menimbulkan suatu luka batin yang mendalam pada anak dan membuat anak trauma sehingga berusaha kabur dan mungkin hidupnya semakin keras dengan cara tidak mudah bersosialisasi.Kebanyakan anak jalanan bisa kita lihat bahwa emosionalnya tinggi itu disebabkan karena kekerasan yang diberikan Orang Tua dan kehidupan jalanan yang memaksa mereka harus bertindak keras.
Mimpi-mimpi dalam hidup adalah yang mereka miliki saat ini,bermimpi memang tidak ada salahnya karena dengan mimpi hidup menjadi bersemangat dan perjuangan untuk mendapatkan mimpi itu menjadi lebih berarti.Anak-anak jalanan yang aku temui mempunyai banyak mimpi yang indah.Mereka banyak cerita kapada aku tentang mimpi-mimpi mereka,sebagai orang yang lebih dewasa aku senang mendengar mimpi-mimpi mereka.Sebagaian dari mereka ada yang ingin menjadi dokter dan ada juga yang ingin menjadi pengusaha tapi yang membuat aku terhanyut adalah ada dari mereka yang mimpinya atau cita-citanya ingin menjadi orang baik,dia bilang kalau orang baik di Jakarta semakin jarang saja dan menjadi orang baik itu lebih susah daripada menjadi seorang dokter.Mimpi mereka banyak sekali selain cita-cita mereka ada yang ingin membangun rumah dengan tembok dan kamar yang luas maklum sebagian dari mereka tidak mempunyai rumah atau rumah yang tidak layak dihuni manusia.Aku mendengarkan dengan setia sambil berkata di dalam hati sungguh mulia cita-cita mereka.Saat mereka mengakhiri cerita mereka aku sangat sedih sekali karena mereka berkata bahwa orang miskin dan anak jalanan seperti mereka hanya bisa bermimpi saja,karena untuk mewujudkan semua itu perlu uang yang banyak dan anak jalanan seperti mereka apa yang bisa mereka lakukan.
Sekali lagi aku katakan bahwa hidup sebagai anak jalanan tidaklah mudah dan itu aku rasakan sendiri dengan terjun sebagai pengamen dan pemulung.Uang lima ratus rupiah merupakan hal yang sangat berarti bagi mereka anak jalanan.Aku memulai perjalanan mengamen di lampu merah kalimalang,pada awalnya aku sedikit ragu apakah aku bisa,tapi dengan mental nekat akupun mulai menyayikan lagu dari mobil ke mobil,uang yang aku dapatkan lumayan,masing-masing setiap mobil memberikan uang Rp 500 sampai Rp 1000.Satu hal yang aku sadari masih kurang adalah aku masih belum bisa melepaskan statusku sebagai seorang pelajar,aku masih ragu-ragu untuk tampil sebagai pengamen.Setelah selesai di lampu merah aku mencoba untuk mengamen di bis menuju Tanjung Priok,satu hal yang aku tekankan aku harus benar-benar melepas semuanya,aku harus bisa menjadi seorang pengamen dari dalam.diri.Mencoba untuk mendalami peran sebagai pengamen merupakan hal yang tidak mudah rasa malu pasti kadang kala datang menghampiri.Aku mengamen sampai sore hari kira pendapatan yang aku dapatkan Rp 20000 tapi sebagian harus aku berikan kepada seorang pengamen kecil karena dia menangis karena setoranya kurang.Menjadi pemulung aku sudah mengira tidak semudah waktu menjadi pengamen.Aku mulai memulung botol-botol bekas dari mulai siang hari sampai sore hari.Benar yang aku takutkan datang hujan saat aku sedang memulung,Tpi karena harus memenuhi target dalam hujan aku terus berjalan.Dari pengalaman menjadi pemulung aku bisa tahu bagaimana ditolak orang,harus bersaing dengan pemulung lain sampai beratnya membawa gerobak semua itu aku rasakan dalam dinginya udara.Waktu sudah sore aku kembali ke tempat penghitungan ternyata dari semua botol yang aku dapat hanya ada 4 kg dan aku hanya mendapat uang Rp 6000 saja.Sungguh sangat melelahkan bekerja setengah hari hanya mendapatkan uang Rp 6000.
Saat aku melewati daerah Tanah Merah aku mengatakan sekali lagi dalam hatiku bahwa banyak orang yang masih hidup susah di Kota Jakarta ini dan aku merupakan orang yang masih beruntung.Bagaimana aku melihat keadaan di Tanah merah sebuah kampung yang berupa rawa yang selalu tergenang air dan akan selalu banjir saat hujan datang,Tanah Merah dikelilingi oleh tangki-tangki minyak plumpang yang bisa membakar semua kampung bila meledak.Sempat beberapa kali aku mengobrol dengan para penduduk Tanah Merah.Ada seorang Bapak yang mengatakan bahwa “Hidup di dunia ini sudah susah,banyak orang yang berpikir sampai ke planet dan orang Kaya bisanya Cuma membohongi orang miskin aja”.Dari banyak perbincangan dengan para warga kampung Tanah Merah aku mendapatkan banyak pelajaran baru,ternyata kadang kala mereka lebih maju dalam berpikir daripada orang-orang kaya hanya saja bila ingin bertindak mereka terhalang oleh banyak hal teknis.
Akhir Sebuah Perjalanan Singkat
Hidup di Jakarta sangatlah keras itulah apalagi bagi anak-anak kecil yang umurnya dibawah usiaku yang baru 17 tahun.Dalam Perjalananku aku melihat bagaimana mereka menangis karena sehabis digampar kerena kurang membayar setoran.mereka harus naik turun bis hanya untuk mendapatkan uang padahal bis melaju dengan cepat.Dari perbincangan dengan anak jalanan aku mendapatkan bahwa pekerjaan mereka sangatlah berbahaya dan aku kadang tidak pernah membayangkan kalau seusia mereka sudah bekerja seperti itu.Ada dari mereka yang pekerjaanya mencuri besi dari truck atau meniris minyak atau bensin dari tangki mobil pertamina yang sedang berjalan.Sungguh nasib mereka ditentukan di jalanan.
Setiap perjalanan pasti harus selesai yang perjalanan Live in yang aku jalani telah selesai.Banyak pelajaran baru yang aku dapatkan dari perjalanan Live in ini yang semuanya telah aku Ceritakan di atas.Bagaimana aku memahami banyak orang yang tidak beruntung dari aku,bagaimana anak-anak kecil harus bekerja mempertaruhkan nyawanya dan bagaimana susahnya menjadi pengamen dan pemulung.Aku merasakan itu semua dalam kejadian nyata,Mungkin banyak orang tidak tahu kalau ternyata untuk bertahan hidup memanglah tidak mudah.Perjalanan Live in memang sudah selesai tapi semangatku untuk kembali dan mengenal mereka lebih jauh belumlah selesai mungkin di lain waktu aku bisa kembali mengenal mereka.Ini merupakan semangat baru bagiku dalam menjalani perjalanan hidup,aku menjadi mengenal semangat itu bisa di dapatkan dengan niat yang kuat.Sebuah perjalanan yang menarik semoga aku bisa menjalani ini lagi dan bisa mengajak banyak orang semakin menyadari kehadiran orang-orang bawah.

Refleksi Live-in

Segenggam Kacang Persahabatan dari Bumi Desa Putra

Satu lagi peristiwa kualami dengan segala pergulatan yang ada. Sungguh saya amat bersyukur dapat mengalami pengalaman yang menakjubkan, hidup merasakan dan menjadi seperti orang lain yang ternyata mungkin tak seberuntung diriku. Memang, salah satu hal yang paling saya syukuri selama saya masuk seminari adalah bahwa cakrawalaku dibuka, melihat realitas dunia yang ternyata begitu kompleks, variatif dan reflektif. Semua yang saya lakukan ini tentunya dimaksudkan agar kumampu mensyukuri segala yang kumiliki dan kujalani hingga saat ini. Lalu apa yang kupetik kali ini?
Aku coba menggali segalanya di sebuah Panti Asuhan. Ya, Desa Putra. Jujur, mulanya aku cukup kecewa ditempatkan di tempat ini. Aku pikir, tantangan dan pengalaman yang didapat mungkin tidak sebanyak di tempat live in lain. Namun satu hal yang perlu saya ingat adalah saya sudah mulai belajar, bahwa terkadang lingkungan berjalan tidak sesuai dengan yang kita harapkan, tetapi jangan sampai hal ini menghentikan langkahku untuk belajar dari orang lain.
Panti Asuhan Desa Putra. Sebuah tempat dimana rasa kekeluargaan timbul dari masing-masing anggotanya. Yang namanya panti asuhan, berarti anak-anak yang tinggal disana diasuh karena berbagai halangan dan hambatan yang dialami orangtua, sehingga mereka tak mampu mengasuhnya sendiri. Tidak sedikit dari mereka yang bahkan tak pernah melihat orang tuanya sejak lahir. Dari sini saja, aku sudah menemukan kenyataan pahit hidup seorang anak kecil yang masih dipenuhi aura kepolosan. Bertolak dari hal ini, aku ingin sedikit mengenal, mengamati dan coba ikut merasakan apa yang menjadi pergulatan hidup mereka selama ini.
Satu hal yang kupelajari selama saya melakukan kegiatan seperti ini adalah belajar untuk berani menyapa orang sang pemilik tempat. Hal ini juga saya lakukan di sini. Sayangnya hal ini tidak berjalan selancar yang saya kira. Melihat wajah para pengasuh, pastinya saya cukup gentar dengan tampangnya yang cukup menakutkan. Hal kecil seperti ini yang membuatku enggan menyapa. Namun aku yakin, pastinya mereka berhati mulia karena memiliki dedikasi bagi anak-anak yang bahkan tak mampu memperoleh perhatian dari orang tuanya sendiri. Saat hari pertama hampir berkahir, ada salah seorang ibu yang mengeluh kepada kami karena rasanya mereka para pengasuh kurang disapa sebagai yang empunya rumah,. Saya malah keasyikan langsung berbaur dengan komunitas anak di sana. Sebuah teguran yang cukup reflektif dimana dari sini kami bisa berintrospeksi tentang bagaimana ku harus bersikap. Nah, pembicaraan ini sungguh membuka cakrawalaku, bahwa tidak ada orang yang tidak senang disapa. Dari sini aku belajar untuk senantiasa mau dikritik, sejauh hal ini membantuku. Jadi, mulailah saya menyapa mereka dengan senang hati dan nyatanya mereka pun menyambutnya dengan senang pula.
Mulanya jujur aku bingung untuk memulainya. Muncul pertanyaan dalam diriku : “Apa yang harus kulakukan dan bagaimana cara ku memulainya?” Keraguan ini seakan disirnakan oleh seorang anak yang menghampiriku dan menanyakan tentang diriku. Nah, ternyata anak sekecil itu pun lebih berani memulai lebih dahulu, mau mengenal orang lain. Mulanya aku jadi malu sendiri, namun dari sini aku mulai berani untuk lebih akrab dengan mereka. Sekilas pandanganku mereka anak yang mandiri, penuh semangat, powerful, penuh mimpi, dan tak mudah menyerah. Dari sifat-sifat dasar mereka, aku melihat banyak kekurangan dariku yang justru ada dalam diri mereka. Mungkin banyak orang bilang sikap mereka akan liar sebagai anak tak ber-orangtua, tetapi aku melihat realitas ini sungguh dalam diri mereka. Mereka sungguh punya harapan besar untuk membahagiakan anak mereka sewaktu dewasa nanti.
“Hidup ini keras bung!” Ungkapan ini sangat terasa dan nampak jelas dalam kehidupan di sini. Mereka anak-anak yang bertahan dengan dirinya sendiri. Seberapa besar pun peran pengasuh, tetap tak mampu menggantikan sepenuhnya peran orangtua yang seharusnya menyalurkan kasih sayangnya kepada mereka. Aku menemukan satu momen perkelahian antar-anak kelas 2 SD. Sungguh mengherankan melihat bagaimana mereka saling baku hantam tanpa ada tangis saperti anak kecil pada umumnya. Hidup keras di asrama memaksa mereka untuk menyelesaikan masalahnya sendiri. Ketika ancaman datang menghimpit diri, sudah selayaknya mereka membentuk pertahanan diri, agar tidak kalah sebelum berperang.
Sebagai sesama anak asrama (mereka anak panti asuhan dan saya anak seminari), tentunya kami punya berbagai perasaan yang mungkin sama kami rasakan. Aku melihat jelas bagaimana mereka terbiasa untuk makan daging, mungkin hanya 1 minggu sekali. (bandingkan dengan kami, yang kira-kira seminggu makan daging hingga 5 kali bahkan 10 kali). Ironisnya, ketika ada pesta atau sumbangan, mereka tidak senorak diriku saat pesta di seminari. Ketika aku melihatnya, terkadang aku jadi malu sendiri. Orang sepertiku yang mungkin berkecukupan, ternyata lebih kampung dibanding orang yang biasa saja bahkan kekurangan.
Apa yang kukerjakan di sana? Prinsipnya kami diberi kebebasan untuk mengamati, hidup dan merasakan segala seuatu yang terjadi di sana. Tentunya saya dan teman-teman tak hanya tinggal diam ketika mereka semua sekolah. Kami membantu sebuah pekerjaan kecil yang ternyata begitu berkesan, menyetrika baju. Sebuah pekerjaan yang amat sederhana bukan? Nah, di sini kami bisa saling sharing dan berbagi cerita dengan ibu dapur dan orang belakang panti. Mereka adalah orang-orang hebat yang mau membaktikan diri menjadi pelayan bahkan bagi anak-anak yang kekurangan kasih sayang dan perhatian. Ini yang juga jadi salah satu motivasiku, bisa berguna bagi orang kecil khususnya. Selain itu aku juga membantu mengajarkan adik-adik untuk menyelesaikan tugasnya dari sekolah. Satu hal yang cukup mengkawatirkan adalah, justu anak panti yang punya jadwal belajar teratur, malah kalah dibanding anak luar. Mereka kalah karena siswa luar mengikuti les tambahan, sedangkan mereka tidak. Belum lagi motivasi mereka belajar belum jelas, semata-mata agar tak dimarahi pengasuh. Sejenak merenung, seringkali aku juga melakukan hal yang sama, melakukan sesuatu atas dasar tekanan dan dorongan dari luar, bukan karena motivasi pribadiku.
Pokok inspirasi dan refleksiku adalah rasa persahabatan yang muncul dari kacang goreng, khas buatan ibu dapur panti. Hal kecil ini yang justru menjadi alat pemersatu kami. Saat kami datang, kami diberi satu mangkok penuh kacang goreng, sedangkan anak panti hanya dapat segenggam. Nah, dengan membagikan kacang favorit anak panti ini, saya bisa masuk ke pribadi mereka satu per satu : ngobrol sambil ngemil kacang bareng. Wow, sungguh menakjubkan pengalaman dan kisah mereka yang mungkin tidak kujumpai di tempat lain. Segenggam kacang persahabatan yang tak akan kulupakan dan justru menjadi jembatan yang baik bagi kami. Memang, segala komunikasi membutuhkan jembatan-jembatan kecil, sehingga terjadi suatu relasi yang erat satu sama lain.

Dari semua hal yang kuterima di sana, aku mampu melihat bahwa tidak selama segala kenyataan pahit yang kuterima dalam hidup menjadi batasan untuk mewujudkan mimpi. Kenyataan bahwa orang tua mereka tak mampu memberikan cinta sepenuhnya membuatku tahu arti sebuah kasih sayang yang sungguh menjadi perhiasan hidup manusia. Saya semakin yakin bahwa cinta memulai segalanya, dan itulah yang menjadi motivasi awal Tuhan menciptakan diriku dan semua makluk di dunia. Keterbatasan mereka sebagai anak panti membuat mereka memiliki semangat juang yang jauh lebih tinggi, demi menjadi manusia yang berguna minimal bagi dirinya sendiri. Aku sungguh tertegun dengan segala realita yang mereka alami. Kini, aku punya semangat lebih untuk senantiasa setia mengembangkan diri, demi masa depanku.
Sekian

Eduard Salvatore da Silva
Seminari Wacana Bhakti – Kolese Gonzaga
Jakarta 2009

Refleksi Live-in

Generasi Penerus Bangsa di Sanggar Rebung


Saat-saat yang Mendebarkan

Sebagai seorang seminaris yang menginjak tahun ketiga, kali ini aku mendapat kesempatan untuk live-in. Awalnya aku tidak tahu ke mana akan ditempatkan untuk menjalani live-in. Aku hanya bisa membayangkan bahwa nantinya aku akan ditempatkan di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Bantar Gebang, Muara Karang, atau Cilincing. Namun, anggapanku semula salah karena ternyata kami akan dibagi dalam tiga kelompok, yaitu Sanggar Akar, Sanggar Rebung, dan Panti Asuhan Desa Putera.
Hari Sabtu, 7 Februari 2009, kami baru diberi keputusan pembagian kelompok live-in. Pembagian kelompok ini dilakukan oleh Fr. Hepi, selaku koordinator live-in kami. Aku mendapat kelompok live in di Sanggar Rebung bersama dengan Bekti dan Hena. Sejujurnya, aku tidak mempunyai gambaran sama sekali tentang live-in karena ini kali pertamanya aku bisa mempunyai kesempatan untuk live-in.

Mengenal Lebih Dekat Sanggar Rebung

Hari Senin, 9 Februari 2009, pagi hari kira-kira jam setengah sembilan, aku bersama kedua temanku berangkat menuju Sanggar Rebung. Perjalanan awal kami menuju ke Stasiun Pasar Minggu diliputi awan mendung yang menjadi pertanda bahwa hujan akan turun. Kendala pertama kami adalah mencari lokasi di mana Sanggar Rebung berada. Kami hanya bermodalkan acuan kendaraan umum dan patokan tempat di mana kami harus turun. Untungnya, perjalanan kami tidak terhambat oleh hujan yang mengguyur. Kira-kira jam setengah sebelas, kami tiba di Bale Baca Sanggar Rebung. Tidak begitu sulit mencari alamat Sanngar Rebung yang berada di Depok Baru ini. Kami hanya perlu mengeluarkan kocek tujuh ribu rupiah per orang untuk sekali perjalanan.
Sanggar Rebung ini berlokasi di pinggiran kota Depok, tepatnya di Jl. H. Kocen/Cikambangan no 49, RT 01, RW 02, Kampung Kebon Duren, Kelurahan Kalimulya, Kecamatan Sukmajaya, Depok, Jawa Barat. Mengapa letaknya di pinggiran kota? Karena melihat keterbatasan sarana dan prasarana pendidikan yang mendukung anak untuk keluar dari budaya kemiskinan, maka Sanggar ini didirikan pada bulan Januari 2002. Mas Budi Santoso Josep adalah salah seorang pendiri dan ia tinggal di Sanggar Rebung. Mas Budi ditemani oeh Mas Daru, seorang pemuda yang bersekolah di STM Grafika Mardi Yuana, Bogor. Mas Daru adalah salah seorang anak asuh yang sudah tinggal bersama Mas Budi semenjak duduk di bangku kelas 4 SD.
Hari pertama aku mencoba untuk mengenal lebih dekat lingkungan Sanggar Rebung. Lingkungan masyarakat di sekitar Sanggar Rebung mayoritas beragama Islam dan menganut garis keras. Sebagian besar masyarakatnya adalah pendukung Partai Keadilan Sejahtera. Karena mayoritas masyarakatnya menganut Islam garis keras, maka mereka sangat anti dengan orang Kristen dan omong kosong apabila kita berbicara mengenai Tuhan dengan mereka. Setelah aku mengetahui hal ini, hatiku mulai bergumul dan bertanya-tanya, “ Apakah aku bisa diterima masuk oleh masyarakat di sekitar sanggar ini?’ Muncul perasaan takut dan kecemasan dalam diriku untuk melalui proses ini. Aku hanya berpikir bahwa tidak ada hasil dan pengalaman yang dapat aku peroleh, tanpa melalui proses ini.
Siang hari setelah kami sejenak beristirahat, tiba-tiba seorang anak bernama Aldo datang ke sanggar. Aldo adalah seorang bocah yang duduk di bangku kelas 2 SD. Aku mencoba untuk mengajarinya membaca sebuah buku. Aldo memiliki ketertarikan untuk membaca buku, walaupun cara membacanya masih sedikit terbata-bata. Tak lama kemudian datang seorang gadis kecil bernama Iing yang duduk di bangku kelas 2 SD. Berbeda dengan Aldo, Iing tidak terlalu menyukai membaca buku, tetapi Iing lebih lancar membaca. Ayah dari Iing sehari-harinya bekerja sebagai supir angkutan umum D 10 dan ibunya seorang ibu rumah tangga. Kedua orang tua Iing kurang menghiraukan perkembangan anaknya di sanggar. Mereka hanya memikirkan,” Yang penting anak gue belajar di sanggar dan sekolah.” Seorang bocah yang terlihat sedikit lebih tua dari Aldo dan Iing datang tak lama kemudian. Anak itu bernama Kiki dan duduk di bangku kelas 4 SD. Kiki adalah anak seorang supir. Kiki bisa dikategorikan sebagai bocah yang cukup pintar karena semua buku yang ada di sanggar telah dibaca olehnya. Hampir semua buku dihafal isinya, terutama buku tentang dinosaurus yang paling ia gemari. Latar belakang keluarganya sangat mencemaskan. Pernah suatu kali ayahnya ketahuan membawa perempuan lain dan hal ini tidak diketahui oleh istrinya. Bagi saya ini menjadi suatu tindakan yang memilukan dan anaknya perlu menjadi suatu perhatian. Adalagi seorang bocah laki-laki yang sangat menggemari musik. Ia bernama Chandra dan duduk di bangku kelas 2 SD.
Sepanjang hari ini aku mencoba mengenal mereka lebih dekat satu per satu . Tenyata mereka merasa nyaman bercanda dan belajar bersama kami. Kami menyempatkan untuk berkeliling bersama di sekitar lingkungan sanggar. Sanggar Rebung juga mempunyai lebih dari lima ekor kelinci, maka kami juga pergi ke kebun untuk mencari rumput.. Selesai mencari rumput, mereka kembali ke rumah masing-masing untuk mandi dan sholat maghrib. Malam harinya mereka datang kembali untuk belajar dan bercanda gurau. Aku bisa melihat bahwa mereka merindukan kasih sayang dari canda tawa mereka.

Penjual Kembang Tempat Pemakaman Umum Kalimulya

Hari kedua aku bangun kira-kira jam enam pagi. Selesai mandi, aku diberi informasi oleh Mas Budi bahwa tetangga depan rumah ada yang baru saja meninggal karena dibunuh. Aku terkejut seketika karena kejadian ini bukanlah peristiwa yang lazim terjadi. Tak lama kemudian aku diajak Mas Budi ke rumah tetangga sebelah untuk membantu menjual kembang di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Kalimulya I. Kami sarapan sebentar atau istilah masyarakat sana nyarap. Jam setengah Sembilan kami berangkat menuju ke TPU Kalimulya I. Aku tidak terlalu banyak bekerja karena TPU Kalimulya merupakan pemakaman yang sudah tua dan sudah penuh. Jadi, kalau ingin menguburkan orang yang sudah meninggal harus ditumpuk. Aku hanya membantu merapikan tempat dagangan bersama ibu penjual kembang itu .
Setelah itu, aku hanya duduk santai sambil mendengarkan obrolan guyonan para penggali kubur dan ibu-ibu penjual kembang. Paling hanya satu sampai dua keluarga yang berziarah ke Pemakaman Kalimulya. Banyak peziarah berkunjung saat bulan puasa atau lebaran. Untuk memperoleh 5000 rupiah, kami harus duduk sampai sore hari dan merasakan kebosanan karena lingkungan makam yang sangat sunyi. Demi memperoleh penghasilan yang belum pasti sehari-harinya. Seorang ibu harus menggantungkan rejekinya di Pemakaman Umum Kalimulya. Sungguh pengorbanan yang tidak bisa dibayar dengan uang sebesar 5000 rupiah.

Pandangan Hidup Tradisional

Jam setengah lima kami kembali ke sanggar. Kendatanganku disambut oleh anak-anak sanggar. Kali ini jumlah mereka bertambah banyak karena mereka mengajak teman-teman yang lain untuk bermain dan belajar. Di sanggar ini aku bisa berbagi cerita dan ilmu dengan mereka, mulai dari tebak-tebakkan sampai cerita lucu. Aku dan mereka belajar banyak hal. Mereka memperoleh ilmu dan kasih sayang dariku. Sedangkan aku memperoleh cara bagaimana aku bisa mengasihi dan berbagi dengan mereka. Mengasihi dan berbagi tidak selalu dengan pemberian barang. Tetapi alangkah baiknya dengan memberikan perhatian dan ilmu yang mungkin tidak akan pernah mereka lupakan. Mereka adalah anak-anak yang memerlukan perhatian dan kasih sayang lebih karena orang tua mereka kebanyakan masa bodoh atau cuek. Aku salut dengan mereka karena sekalipun mereka memiliki latar belakang keluarga yang notabene keadaan ekonominya rendah atau bermasalah, namun mereka memiliki cita-cita yang tinggi. Misalnya saja, Kiki, ia sudah memiliki cita-cita menjadi seorang dokter hewan. Tetapi, “Apakah ia bisa mencapainya apabila ia tidak mempunyai biaya yang cukup untuk meneruskan pendidikannya?”. Aku prihatin ketika melihat perempuan seumuranku sudah menggendong anak. Sepertinya mereka memiliki pandangan bahwa umur 21 tahun harus sudah menikah. Padahal usia 21 tahun merupakan usia yang masih produktif untuk kuliah atau menuntut ilmu. Pendidikan bagi masyarakat di sana nomor dua, yang penting dan nomor satu adalah uang. Usia 21 tahun bagi laki-laki dianggap sudah bisa bekerja. Pekerjaan bagi mereka tidak memerlukan ijazah yang tinggi, yang penting adalah otot.
Sejenak aku berpikir kalau pandangan mereka seperti ini, barangkali mereka akan mudah ditipu hanya dengan jaminan pemberian uang oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. Contohnya saja, pada pra Pemilu berbagai macam partai mencoba untuk mencari massa. Maka partai yang ingin mencari banyak massa memberikan jaminan uang dengan persyaratan masyarakat harus mendukung dan memilih partai tersebut. Jelas, masyarakat Kalimulya sangat senang apabila mendapat jaminan akan diberikan uang. Jika hal ini terus berlanjut maka yang menjadi pertanyaan adalah kapan negara kita akan berkembang.

Berkah dan Musibah Sanggar Rebung
Kehadiran Sanggar Rebung di tengah-tengah masyarakat Kalimulya menimbulkan kontroversial. Sanggar Rebung berlabel agama katolik yang sudah pasti ditentang oleh masyarakat Kalimulya. Label ini yang menyebabkan masyarakat kurang menerima kehadiran Sanggar Rebung. Tetapi, di tengah kontroversial, Sanggar Rebung mencoba mengembangkan sayapnya di balik layar. Sanggar Rebung mencoba tetap berkarya dan bersikap netral, tanpa memihak pada siapapun. Sanggar Rebung memberikan santunan kepada anak-anak yang keadaan ekonominya memprihatinkan.
Segala sesuatu yang ingin diperjuangkan pasti ada konsekuensi yang harus ditanggung. Konsekuensi itu menjadi tahap untuk mencapai tujuan akhir dari apa yang diperjuangkan. Konsekuensi itu tidak dapat dihindari. Namun, konsekuensi itu harus dihadapi dengan penuh pertanggungjawaban. Dampak baik dari kehadiran Sanggar Rebung di masyarakat Kalimulya belum bisa dirasakan sepenuhnya, karena masih ada oknum yang merasa tidak diuntungkan dan itulah yang menjadi cobaan bagi Mas Budi. Tapi Mas Budi tidak pernah mencoba untuk melawan, melainkan berpasrah dengan Sang Pemilik Kehidupan. Sempat terlintas dalam benak Mas Budi untuk membubarkan Sanggar karena sudah merasa penat dengan penolakan. Tapi Tuhan tidak tinggal diam, IA berkarya melalui “malaikat tak bersayap” . Seorang Notaris P.PAT yang tentu tidak dikenal oleh Mas Budi langsung menawarkan Sanggar Rebung untuk dijadikan sebuah Yayasan. Mas Budi langsung menerima tawaran itu dan mengurungkan niatnya untuk menutup Sanggar Rebung. Tuhan tidak akan pernah tinggal diam ketika kita berniat untuk berbuat baik. Sekalipun Tuhan tidak langsung mewujudkan niat baik yang kita dambakan, aku menyadari karya Tuhan melalui perantaraan orang-orang yang ada di sekitar kita bahkan orang-orang yang tidak kita kenal.
Pengabdian Mas Budi di Sanggar Rebung jelas membawa sebuah berkah tersendiri. Sanggar Rebung kini sudah menjadi Yayasan Rebung Cendani dan terorganisir oleh orang-orang yang bersedia memberikan donasi atau terlibat di dalam Yayasan Rebung Cendani.
Sebungkus Nasi Goreng

Hari Ketiga aku melakukan rutinitas seperti hari kemarin. Aku bangun jam enam pagi, menyapu, mengepel, dan merapikan buku-buku di sanggar. Kemudian aku mandi dan langsung pergi nyarap. Pengalaman yang tidak aku duga terjadi ketika kami sedang sarapan di pinggir jalan. Seorang bapak menghentikan sepeda motornya dan ikut sarapan dengan kami. Ketika aku melihat raut wajahnya, aku merasa tidak asing dengan sosok bapak ini. Sang Bapak tiba-tiba menyapa kami dan kami membalas menyapanya. Ternyata sang bapak melihat baju temanku, Hena yang tertulis “Ignatius School Fair” dan ia bertanya kepada kami “ Adek, Katolik semua?”. Kami menjelaskan bahwa kami sedang live-in di Sanggar Rebung. Ketika aku ingin membayar, bapak tadi langsung mentraktir kami bertiga. Dalam hati aku bersyukur dan ternyata masih ada orang yang seperti bapak itu.
Malam harinya ketika hendak pergi untuk makan malam, aku teringat sejak kemarin bahwa Mas Budi harus menggunakan uang makannya untuk biaya sekolah Kiki dan Mas Daru. Dalam tiga hari, Mas Budi bisa tidak makan sama sekali dan hanya makan daun yang bisa dimakan di kebun belakang sanggar. Aku salut dengan pengorbanan yang diberikan Mas Budi untuk sanggar. Maka, aku berniat untuk membelikannya sebungkus nasi goreng untuk makan malam Mas Budi dan Mas Daru. Mereka begitu senang dan sangat bersyukur. Mas Daru mungkin hanya bisa makan indomie setiap harinya dan jarang sekali makan nasi. Demi membayar uang sekolah anak-anak asuhnya, Mas Budi harus merelakan tidak makan sesuap nasi dalam sehari. Sebungkus nasi goreng tidaklah terlalu berarti, tetapi ketulusan yang kami berikan menjadi lebih berarti.

Selamat Tinggal Sanggar Rebung

Setelah empat hari berada di sana sepertinya aku tidak ingin meninggalkan sanggar. Anak-anak sanggar juga tidak ingin aku pulang meninggalkan mereka. Kami menuliskan surat, tanda tangan, alamat, dan alamat e-mail sebagai tanda perpisahan kami. Mereka pun juga menuliskan surat yang mungkin bisa aku kenang. Waktu sudah menunjukkan jam satu siang. Karena perjalanan pulang yang harus aku tempuh cukup jauh maka kami merencanakan pulang jam setengah dua siang.
Anak-anak sanggar mengantarkan kami sampai ke jalan besar untuk menunggu angkot D10. Saat itu adalah jam pulang sekolah, sehingga banyak angkot yang sudah penuh dan kami harus menunggu lama. Mereka berjanji akan menunggu sampai kami sudah tidak terlihat lagi. Ketika ada satu angkot yang cukup lengang, kami langsung naik dan melambaikan tangan kepada mereka. Ada perasaan sedih tetapi bercampur dengan kebanggan karena bisa berbagi banyak hal dengan mereka. Seolah-olah aku ingin menangis dalam hati dan aku juga ingin menaruh harapan pada mereka, semoga kelak mereka bisa menjadi generasi penerus bangsa yang bisa melanjutkan pendidikannya sampai setinggi-tingginya

Berikut ini adalah surat yang dituliskan oleh Kiki, Chandra, Iing, Aldo, Panca

Hai Kak, kakakku yang ganteng yang baik
Aku ingin mengucapkan selamat hari velatin
Dan aku ingin mengucapkan selamat tinggal
Aku akan mengingatmu selalu dan aku ingin selalu bersamamu
Kalau kakak ingin bertemu kami lagi datanglah ke sanggar rebung cendani..
Panca.W

I Love U Semua
Selamat
Hari Velantin
Chandra
Kiki. R

Refleksi Live-in

NON SCHOLAE SED VITAE DISCIMUS
(Refleksi Live-in di sebuah Taman Bacaan)

Kehidupan akan terasa mudah untuk dijalani jika setiap manusia menjalankan kehidupannya dengan tulus. Manusia akan terus hidup dengan pengalaman-pengalaman yang menjadikan dirinya menjadi lebih dewasa dalam menghadapi realita kehidupan yang ada. Tak lepas dari itu semua bahwa Tuhan menciptakan manusia menurut citra-Nya dan selalu hadir dalam diri setiap manusia untuk berkarya.
Merupakan pengalaman menarik dimana diriku diutus untuk live-in di sebuah daerah di luar Jakarta. Sanggar Rebung, itulah sebuah nama dari tempat yang kutempati bersama dua orang temanku selama live-in. Sanggar Rebung merupakan taman baca atau lebih dikenal dengan nama balai baca. Tempat ini merupakan sarana bagi anak-anak penduduk sekitar daerah Kali Mulya untuk menimba pengetahuan. Secara khusus sanggar ini menyediakan buku-buku yang cukup banyak sehingga anak-anak bisa membacanya. Sudah hampir delapan tahun sanggar ini didirikan yang dikelola oleh dua orang laki-laki yaitu mas Budi dan mas Daru. Mas Budi merupakan alumni Angkatan 2 Seminari Menengah Wacana Bhakti sedangkan Daru adalah seorang pelajar kelas XI jurusan grafika di SMA MARDIYUANA, Bogor,Jawa Barat.
Senin, 9 februari 2008 tiga orang anak muda datang dari Jakarta ke sanggar Rebung untuk live-in disana. Selama perjalanan menuju sanggar Rebung kami menggunakan kereta api Jabotabek dan turun di Stasiun Depok Baru. Sepanjang perjalanan banyak hal yang aku lihat sehingga membuka mataku akan realita kehidupan di luar sana. Kehidupan di luar memang keras dimana setiap diri kita harus bisa mempertahankan hidup kita. Ini bukanlah suatu hal yang dianggap remeh tetapi di sinilah diri kita dituntut untuk selalu berusaha memperjuangkan hidup ini. Kehidupan di sepanjang rel kereta api merupakan kehidupan yang menjadi tantangan bagi diri kita. Terkadang diri kita menyia-nyiakan segala kesempatan untuk membangun diri menjadi lebih baik. Aku pun berpikir bagaimana kerasnya kehidupan di luar sana?. Terkadang dalam pikiran, aku bertanya mengapa hidup ini begitu keras? . Dalam hati aku pun bertanya apakah aku mampu bertahan hidup jika aku seperti mereka yang kesusahan mencari biaya untuk hidup?. Bukankah hidup ini harus dijalani seperti air yang mengalir dan terus mengalir?. Itu hanya sepintas pertanyaan yang ada pada diriku selama perjalanan menuju sanggar Rebung.
Akhirnya aku dan teman-teman tiba di sana dengan selamat. Kami disambut hangat oleh mas Budi sebagai pengelola sanggar tersebut. Suasana di daerah itu sungguh sejuk dan cukup tenang, terkesan seperti di Desa. Sampai di sana kami langsung beristirahat sejenak sambil melihat buku-buku yang ada di sana. Seorang anak kecil datang ketika siang hari dan apa yang kami lakukan? Kami langsung kenalan dan langsung mangajarinya membaca, nama anak itu adalah Aldo. Ini merupakan pengalaman unik dimana aku dan teman-teman datang sebagai kakak serta pengajar yang ingin memberikan inspirasi bagi adik-adik di sanggar Rebung. Tak lama kemudian banyak anak-anak yang datang untuk membaca buku di sana. Sungguh diriku terkesan dengan anak-anak tersebut, mereka dengan antusias ingin membaca buku serta belajar di sana. Aku langsung berkenalan dengan mereka, terkadang mereka yang langsung memperkenalkan diri. Mereka adalah anak-anak yang sangat lugu dan manis serta anak-anak yang hebat. Kehadiranku dan teman-teman membuat mereka semakin termotivasi untuk belajar menempuh masa depan yang cemerlang.
Anak-anak yang datang merupakan anak-anak penduduk di daerah sekitar sanggar Rebung yang pendidikannya kurang. Banyak masalah yang dihadapi anak-anak dalam bidang pendidikan terutama yang berpengaruh adalah keadaan ekonomi keluarga mereka yang lemah atau terbatas. Keadaan keluarga mereka yang tidak terbina dengan harmonis menjadikan anak-anak mereka menjadi terlantar. Mampukah keluarga-keluarga tersebut membimbing dan mendidik anak-anak mereka menjadi manusia-manusia yang berkualitas pada nantinya?. Sesungguhnya ini menjadi pertanyaan besar bagi diriku yang sedang live-in di sana. Keprihatinan diriku terhadap mereka hanya bisa kurefleksikan dalam kaca mataku sehingga pada nantinya aku dapat berbuat sesuatu bagi mereka.
Pada waktu sore menjelang malam ada kabar bahwa aku dan teman-teman akan dibagi tempat live-innya sehingga kami bisa merasakan bagaimana kehidupan masyarakat di sana. Tetapi berhubung ada warga yang meninggal di daerah sana akhirnya kami tidak dibagi live-innya dan tetap tinggal di sanggar Rebung. Selama semalam hari itu aku menghabiskan waktu bersama anak-anak untuk belajar bahasa inggris maupun yang lainnya. Aku pun merasa senang dengan kehadiran anak-anak seperti mereka diantaranya adalah Kiki, Aldo, Rama, Iin, Iis, Farhan, Jelita, Candra, Aldi, Maudy, Panca, Ling dan beberapa anak lain yang aku tidak ingat namanya. Akhirnya sebelum tidur aku berefleksi sejenak melihat pengalaman selama hari itu sehingga aku dapat bertindak lebih baik lagi.
Hari kedua, dimana pagi-pagi aku bangun, mandi dan kemudian sarapan. Selesai sarapan aku dan teman-teman diantar mas Budi pergi ke rumah seorang ibu penjual kembang di sebuah kuburan di kali mulya. Sebelum pergi ibu itu melayat tetangganya yang meninggal karena dibunuh dengan cangkul di daerah Bekasi. Peristiwa itu merupakan hal yang sangat tragis bagi diriku. Pembunuhan itu diakibatkan karena persaingan perebutan lahan yang ingin digarap. Bagi diriku hal itu merupakan sebuah peristiwa yang harus direfleksikan bahwa hidup itu tidak mudah perlu perjuangan yang keras, selain itu juga bahwa hidup ini akan selalu ada persaingan jika setiap dari manusia tidak mau bersikap rendah hati. Kerendahan hati akan mengantar hidup kita sebagai manusia menuju kedamaian dan ketentraman dalam menjalani hidup. Setiap manusia akan terus bersaing demi mempertahankan hidup mereka atau survive. Banyak cara yang ditempuh manusia agar bisa mempertahankan hidup mereka secara individu maupun secara kelompok. Kemudian selesai melayat, aku dan teman-teman serta ibu penjual kembang tersebut pergi ke kuburan yang jaraknya tidak jauh dari sanggar Rebung. Dalam perjalanan ibu tersebut berbicara mengenai keadaan kampung daerah tersebut sehingga kami bisa lebih akrab.
Sampai di sana tidak banyak hal yang aku lakukan beserta teman-temanku. Aku hanya membantu menyiangi kembang yang akan dijual, selebihnya aku hanya duduk diam merasakan suasana yang ada di sekitar kuburan. Kuburan merupakan tempat yang sangat unik dimana suasananya sangat tenang. Sungguh jelas suasananya, siapa juga yang mau berkunjung ke kuburan agar terlihat ramai ?, sungguh menarik bahwa kuburan menjadi tempat terakhir bagi setiap manusia yang telah meningal. Aku merasa ada ketenangan dalam diriku ketika berada disana, sungguh hening dan tenang. Menjadi penjual kembang di kuburan merupakan pekerjaan yang unik, secara otomatis tidak banyak pengunjung pada hari biasa kecuali pada hari raya seperti menjelang puasa, Idul Fitri atau hari raya lainnya terutama bagi umat muslim dan kristiani. Memang akan terasa bosan jika tidak melakukan aktivitas sama sekali, aku pun juga merasa bosan dengan keadaan serta tidak banyaknya kegiatan yang ada. Sungguh ini merupakan tantangan bagi diriku dimana aku dituntut untuk menjadi pribadi yang kreatif sehingga aku dapat menggunakan waktu yang ada dengan berbagai macam hal yang bisa dilakukan. Suasana yang ada juga membuat diriku mengantuk tetapi sungguh tenang jika mau beristirahat. Ibu yang menjual kembang tersebut merupakan orang-orang yang tinggal di satu daerah yang letak rumahnya tidak saling berjauhan. Ibu-ibu tersebut sangat baik kepada kami, terkadang aku bertanya kepada mereka tentang suka duka mereka maupun tentang kuburan tersebut. Siang hari aku dan teman-teman memutuskan untuk pergi makan siang dan kemudian kembali ke kuburan menemani ibu-ibu yang berjualan di sana. Ketika aku dan teman-teman kembali ke kuburan, kami langsung minta ijin kepada ibu penjual kembang agar kami bisa berkeliling sekitar kuburan. Memang menarik sekali mulai dari tempatnya, suasana maupun batu nisan yang ada pada setiap kuburan. Bukanlah hal yang menakutkan jika tinggal di kuburan pada waktu siang hari. Tetapi jika setiap manusia mempunyai iman yang kuat otomatis manusia tidak akan takut tinggal di kuburan meskipun pada malam hari.
Sore pun tiba, kira-kira pukul 17.00 aku dan teman-teman serta ibu penjual kembali ke rumah masing-masing. Sampai di sanggar, beberapa anak sedang membaca serta bermain. Kemudian aku berkenalan dengan mereka satu persatu sehingga aku bisa akrab dengan mereka. Terkadang aku mengajak mereka untuk bermain dan mengajari mereka membaca. Terkadang aku juga membacakan cerita untuk mereka, betapa senang hati mereka bisa mendengar cerita dari buku-buku yang kubacakan.
Menjelang Maghrib akhirnya aku membersihkan diri dengan mandi, kemudian aku beristirahat sejenak, aku merasa lelah karena seharian menjual kembang atau lebih gaulnya yaitu nongkrong di kuburan. Ketika anak-anak datang, aku dan teman-teman kembali mengajarkan mereka membaca serta membantu mereka untuk menyelesaikan tugas sekolah mereka. Di sana kami saling tanya jawab sehingga pengetahuan kami dan mereka dapat bertambah dalam memori. Contohnya adalah Kiki, ia adalah anak kelas empat SD yang bisa dikatakan cerdas. Kemampuannya sungguh tidak dipertanyakan, ia rajin sekali membaca buku sehingga pengetahuannya cukup banyak tentang berbagai hal misalnya, dinosaurus. Ia mampu mengetahui jenis-jenis dinosaurus. Selesai mengajari mereka aku dan teman-temanku pergi keluar untuk makan malam. Hari pun semakin larut aku dan teman-teman memutuskan untuk istirahat tetapi sebelumnya ada sebuah tugas yang harus diselesaikan yaitu menulis sebuah evaluasi untuk hari tersebut.
Hari ketiga, Udara dingin mengubah suasana sehingga aku dan teman-teman terbangun pada pagi hari, aku mandi sambil membersihkan diri agar lebih terlihat segar. Pada pagi hari pun aku sempat mendengar sharing dari pengalaman mas Budi. Banyak pengalaman yang diceritakan olehnya entah dari pengalaman pribadinya maupun pengalaman dalam menjalani pekerjaannya itu sebagai pengelola sanggar Rebung. Perutku dan teman-teman mulai keroncongan sehingga kami langsung memutuskan untuk sarapan di luar. Kami sarapan hanya dengan nasi uduk dan lauk-pauknya, memang sungguh terasa nikmat bisa sarapan dengan makanan yang sederhana itu. Selesai sarapan aku dan teman-teman langsung berangkat menuju kuburan tempat dimana hari kemarin kami berjualan kembang menemani beberapa orang ibu-ibu. Seperti biasa aku hanya duduk menikmati suasana kuburan.
Pada hari itu juga ada orang meninggal yang dikuburkan di tempat itu. Orang itu meninggal akibat kecelakaan tetapi yang mendapat perhatian bahwa kematian orang tersebut sempat diliput oleh stasiun televisi yaitu TPI. Dikatakan bahwa seluruh biaya perawatan sampai meninggalnya orang tersebut ditanggung oleh stasiun televisi TPI. Merupakan pengalaman yang sungguh di luar dugaan diriku, meskipun menarik tetap saja bahwa kematian seseorang akan membawa kesedihan pada keluarga serta kerabat terdekat seseorang yang telah meninggal tersebut. Kepergian seseorang untuk pergi ke rumah Bapa di Surga sungguh akan menjadi kesedihan tetapi janganlah kesedihan tersebut berlarut-larut. Segala apa yang dilakukan oleh orang yang meninggal akan menjadi kenangan mendalam bagi saudara-saudaranya.
Aku dan teman-teman memutuskan untuk pergi jalan-jalan melihat kuburan-kuburan. Memang disaana ada kuburan para pastor OFM serta suster-suster FMM. Kuburan tersebut memang sebagai TPU yaitu Tempat pemakaman Umum, jadi masyarakat yang beragama apapun dapat dikuburkan di sana ketika meninggal. Aku dan teman-teman memutuskan untuk pergi makan siang dan tidak kembali lagi ke kuburan tersebut. Selesai makan siang aku dan teman-teman kembali ke sanggar Rebung dengan rencana mau mengajar anak-anak dan beristirahat. Sampai di sanggar aku melihat banyak anak-anak yang sedang asyik main karambol dan beberapa anak yang lainnya sedang membaca buku.
Aku pun langsung menghampiri mereka dan menemani mereka belajar membaca. Tidak hanya itu saja yang kulakukan aku pun mengajak mereka bermain boneka-bonekaan. Betapa senangnya mereka terutama anak-anak yang masih kecil, berusia lima sampai enam tahun. Kehadiranku membuat mereka bahagia, aku pun juga merasa bahagia dengan kehadiran anak-anak tersebut. Betapa indahnya jika hidup ini selalu ada tawa dan senyuman. Betapa indahnya jika hidup ini dijalani dengan ketulusan dari dalam lubuk hati yang paling dalam. Betapa indahnya jika kita saling melengkapi satu sama lain. Itulah harapan-harapan diriku yang ingin kuwujudkan jika diriku mampu mewujudkan harapanku tersebut. Betapa lugu dan polosnya anak-anak tersebut sehingga mereka membuat diriku bahagia bersama mereka. “Kak mau tidur ya….?”, tanya seorang anak. Aku pun berkata, “iia, memangnya kenapa…?”. “Ya udah deh, aku main sendiri aja..”, jawab seorang anak. Kepolosan yang dimiliki anak tersebut membawa diriku kagum pada diri orang anak kecil. Terkadang aku pun berangan-angan seandainya diri kita ketika dewasa seperti diri anak-anak tersebut. Betapa tentramnnya hidup ini jika diri kita seperti itu yaitu terbuka satu sama lain. Sesungguhnya banyak kerinduan demi menemukan makna kebahagiaan hidup dalam diri kita.
Pada sore hari aku dan anak-anak mencari rumput untuk makanan kelinci piaraan di sanggar Rebung. Seperti biasa aku membersihkan diri dengan mandi selesai mencari rumput, kemudian aku kembali mengajari anak-anak membaca buku. Terkadang aku pun mengajak mereka bermain agar tidak bosan. Tetapi aku merasa kagum dengan antusias yang dimiliki mereka terutama dalam hal membaca dan belajar. Ini merupakan malam terakhir bagiku dan teman-teman untuk live-in di sanggar Rebung. Malam itu pun aku dan teman-teman menyempatkan diri untuk makan malam, selesai makan malam kami membawakan dua bungkus nasi goreng untuk mas Budi dan Daru. Kami kembali ke sanggar kemudian mengajarkan anak-anak membaca lagi. Malam pun semakin larut dan anak-anak kembali ke rumah mereka masing-masing. Begitu lelahnya hari ini sehingga aku dan teman-teman langsung menyiapkan karpet agar kami bisa beristirahat malam.
Hari terakhir merupakan hari yang bisa dikatakan sebagai hari perpisahan kami dengan komunitas sanggar Rebung. Pagi-pagi kami bangun, kemudian membereskan tempat tidur kami dan membersihkan rumah. Pada pagi itu juga kami mandi secara bergantian. Merupakan pengalaman unik dimana aku dan teman-teman bertemu dengan seorang bapak yang beragama katolik ketika sarapan. “Ignatius mana de…?”, tanya seorang bapak. ”Ignasius Jamal (Jalan malang) pak,”jawabku. “Katolik semua ya”, tanya bapak itu. “Iia pak”, jawab salah satu diantara kami. Aku tak menyadari bahwa aku sedang memakai baju yang ada tulisan Ignatius School Fair. Aku sungguh terkejut, aku merasa bahwa Tuhan senantiasa memberikan rahmat-Nya kepadaku dan teman-teman lewat seorang bapak tersebut. Ketika salah satu dari kami ingin membayar nasi uduk, bapak itu langsung menuntaskan makannya dan membayari kami. Aku merasa bersyukur karena masih ada orang baik di dunia ini. Betapa beruntungnya aku dan teman-teman bisa berkomunikasi dengan bapak tersebut.
Sesungguhnya kebaikan akan terus hadir dalam hidup kita. Kebaikan orang lain merupakan tanda kasih Allah kepada diri kita. Aku pun menyadari bahwa diriku akan selalu disertai oleh Allah sehingga kasih-Nya hadir lewat kebaikan yang diberikan oleh orang lain. Allah tidak akan meninggalkan diri kita, Allah akan selalu bekerja dalam diri kita lewat karya-karya yang kita berikan kepada orang lain. Aku dan teman-teman segera kembali ke sanggar untuk membuat evaluasi terhadap keadaan selama kami live-in di sana. Dari pagi sampai siang aku menyelesaikan evaluasi tersebut.
Pada siang hari sebelum aku dan teman-teman pergi, anak-anak datang dan sejenak kami bermain dengan mereka. Betapa bahagia diriku melihat mereka yang ingin mengantarkan kami pulang. Sebelum aku dan teman-teman pulang, kami menuliskan sebuah pesan kepada mereka. Tidak hanya kami yang menulis pesan tetapi mereka pun juga menuliskan pesan untuk kami. Ini adalah surat yang dituliskan oleh Kiki, Chandra, Iing, Aldo, Panca dan lainnya :

Hai Kak, kakakku yang ganteng yang baik
Aku ingin mengucapkan selamat hari velatin
Dan aku ingin mengucapkan selamat tinggal
Aku akan mengingatmu selalu dan aku ingin selalu bersamamu
Kalau kakak ingin bertemu kami lagi datanglah ke sanggar rebung cendani..

Sungguh perasaan yang mendalam dimana kami dan mereka bisa saling tukar pesan. Aku sendiri merasa terentuh dngan tulisan yang mereka berikan kepadaku dan teman-teman. Betapa pedulinya mereka dengan kami sebagai kakak yang memberikan pengajaran kepada mereka. Suatu sentuhan kasih Allah dimana mereka mengantarkan kami ke depan jalan untuk naik angkutan menuju Stasiun Depok. Sungguh kehadiran anak-anak tersebut menyadarkan diriku bahwa non scholae sed vitae discimus. Ungkapan bahasa latin tersebut ingin mengatakan bahwa kita belajar bukan untuk sekolah tetapi untuk kehidupan yang akan dijalani.Pendidikan itu sangat penting bagi masa depanku dan sesamaku terutama bagi kehidupan di dunia ini. Semangat yang dimiliki mereka membuahkan kenangan dalam diriku sehingga aku pun mampu untuk semangat dalam belajar. Hidup merupakan perjuangan yang harus ditempuh oleh setiap manusia, jika manusia tidak mampu berjuang maka hidupnya pun tidak akan bertahan lama. Allah akan senantiasa memberikan kekuatan bagi mereka yang percaya kepada-Nya dan mau berjuang untuk hidup bagi orang lain.

Oleh : Theodorus Egep Henakin/ XI SOS 3/ 30

Profile


NAMA :Theodorus Egep Henakin
PANGILLAN :Hena,Theo,Gembel
TTL : Jakarta, 22 April
Paroki :Cilangkap
Hobi :Main Basket dan Membaca
Cita-Cita :

Tentang Hena:

Profile

Nama :Carolus Astabrata
Nama Panggillan :Carol,Asta,
TTL : Jakarta,2 Januari
Paroki :Pasar Minggu
Hobi :Tidur,Menggambar
Cita-cita :


Tentang Carol:

Profile


NAMA :Joseph Biondi Mattovano
PANGILLAN :Vano,Ovan,
TTL : Jakarta, 23 Januari 1991
Paroki : Santa Monica BSD
Hobi :Membaca dan Menulis
Cita-Cita :
Tentang Vano: