
Minggu, 29 Maret 2009
Sejarah Panggilan
Refleksi Panggilan
Saya Benedictus Donny Gotawa, kini orang-orang memanggil saya dengan sebutan Goni. Saya berasal dari paroki St. Bernadeth, Ciledug. Sebuah paroki kecil yang terletak di kawasan pinggiran kota Jakarta. Tidak memiliki gereja namun itu tidak menjadi hambatan bagi masyarakatnya untuk merayakan ekaristi bersama. Kerap kali kami mendirikan “gereja rumah” dan mengadakan ekaristi dengan mengundang pastor paroki untuk memimpin perayaan ekaristi tersebut. Biasanya setelah misa kami mengadakan ramah-tamah dengan sarapan bersama pastor yang memimpin misa kala itu. Toh, dengan demikian kami pun menjadi mengenal lebih dekat dengan pastor-pastor yang ada di paroki kami.
Saya memberanikan diri untuk menjawab panggilan-Nya ketika saya berada di kelas 3 SMP. Dengan dibekali doa dan restu dari orang-orang terdekat, dengan sadar saya memilih Seminari Wacana Bhakti sebagai tempat pertanggungjawaban atas panggilan ini.
Begitu banyak dari mereka yang mempertanyakan bahwa kenapa saya ingin menjadi pastor. Saya tidak dapat menjelaskannya secara pasti. Saat itu saya ingin menjadi pastor karena menurut penglihatan saya, pastor adalah seorang bapak yang baik. Berkaca dari empirisme keawaman saya pada waktu itu yang berpendapat bahwa kata-katanya seolah penuh rahmat yang berasal dari ion-ion positif. Selain itu saya juga suka memperhatikan pastor yang sedang mempersiapkan persembahan pada saat misa. Tidak tahu seperti apa bentuknya, tapi saya yakin bahwa itu adalah kekuatan dari Tuhan karena pastor itu dekat dengan Tuhan.
Saya berusaha mempercayai bahwa setiap keyakinan itu pasti terlaksana. Saya meyakini keputusan saya untuk masuk seminari merupakan modal awal sebagai pemberanian diri untuk hidup lebih maju ke depan. Ya, saya mencoba untuk mengenal, memahami dan mengolah sapaan yang diberikanNya kepada saya. Lewat seminari menengah adalah satu-satunya cara yang paling tepat agar tercapainya maksud saya waktu itu.
Setahun dua tahun telah saya jalani hidup baru sebagai seorang seminaris muda. Puji dan syukur saya haturkan kepadaNya karena selama itu saya tidak menjumpai hambatan dan rintangan yang berarti. Let it flow. Ya, saya membiarkan hidup dan diri saya mengalir begitu saja.
Berjalan dengan waktu, saya pun mengalami proses dinamika yang melemahkan semangat panggilan hidup saya di kelas 2 ini. Seolah-olah Salib yang saya panggul kini menjadi begitu berat luar biasa. Banyak persoalan intern maupun ekstern yang saya jumpai setahun belakangan ini dan cukup memberatkan posisi saya disini. Krisis kepercayaan terhadap diri sendiri, keluarga, sekolah, relasi dengan teman sekomunitas dan juga para pamong seminari. Kiranya ada banyak hal di luar sana yang menunggu saya untuk menjawabnya. Semua persoalan seakan seperti misteri. Mencoba mencocokkan kode demi kode untuk dipecahkan, tapi selalu bertemu kembali dgn sebuah tanda tanya besar. Keyakinan kadang tergoyahkan karena ketakutan mitos pribadi yang mengatakan bahwa optimistis yang terlalu tinggi biasanya akan mendapat jauh dari hal yang diharapkan. Maka kejadian selanjutnya akan berteman dgn kekecawaan. Tapi pesimistis juga sebuah sikap yang salah untuk mengejar kelegaan. Lalu bagaimanakah formula yang tepat?
Semakin hari, semakin banyak hal yg membuat jalan pikiran terbuka dan membuat saya terpacu untuk menjadi dewasa dalam mengatasi segala hal, termasuk persoalan. Mungkin belum sempurna, tapi cukup untuk menuju sebuah pendewasaan diri. Memulai untuk belajar menerima banyak hal yang semakin menunjukkan bahwa inilah sebuah dunia nyata!
Saya banyak merenung untuk jangka waktu yang cukup lama. Seperti ada sesuatu hal di luar sana yang menunggu saya. Entah apa, tapi kekuatannya sungguh besar. Dalam masa-masa ini, saya pun mencoba belajar untuk berpuasa dalam berkata-kata. Saya ingin lebih mendengarkan hati nurani. Namun karena itu saya justru menjadi terlalu menutup diri.
Benedictus Donny Gotawa
Saya Benedictus Donny Gotawa, kini orang-orang memanggil saya dengan sebutan Goni. Saya berasal dari paroki St. Bernadeth, Ciledug. Sebuah paroki kecil yang terletak di kawasan pinggiran kota Jakarta. Tidak memiliki gereja namun itu tidak menjadi hambatan bagi masyarakatnya untuk merayakan ekaristi bersama. Kerap kali kami mendirikan “gereja rumah” dan mengadakan ekaristi dengan mengundang pastor paroki untuk memimpin perayaan ekaristi tersebut. Biasanya setelah misa kami mengadakan ramah-tamah dengan sarapan bersama pastor yang memimpin misa kala itu. Toh, dengan demikian kami pun menjadi mengenal lebih dekat dengan pastor-pastor yang ada di paroki kami.
Saya memberanikan diri untuk menjawab panggilan-Nya ketika saya berada di kelas 3 SMP. Dengan dibekali doa dan restu dari orang-orang terdekat, dengan sadar saya memilih Seminari Wacana Bhakti sebagai tempat pertanggungjawaban atas panggilan ini.
Begitu banyak dari mereka yang mempertanyakan bahwa kenapa saya ingin menjadi pastor. Saya tidak dapat menjelaskannya secara pasti. Saat itu saya ingin menjadi pastor karena menurut penglihatan saya, pastor adalah seorang bapak yang baik. Berkaca dari empirisme keawaman saya pada waktu itu yang berpendapat bahwa kata-katanya seolah penuh rahmat yang berasal dari ion-ion positif. Selain itu saya juga suka memperhatikan pastor yang sedang mempersiapkan persembahan pada saat misa. Tidak tahu seperti apa bentuknya, tapi saya yakin bahwa itu adalah kekuatan dari Tuhan karena pastor itu dekat dengan Tuhan.
Saya berusaha mempercayai bahwa setiap keyakinan itu pasti terlaksana. Saya meyakini keputusan saya untuk masuk seminari merupakan modal awal sebagai pemberanian diri untuk hidup lebih maju ke depan. Ya, saya mencoba untuk mengenal, memahami dan mengolah sapaan yang diberikanNya kepada saya. Lewat seminari menengah adalah satu-satunya cara yang paling tepat agar tercapainya maksud saya waktu itu.
Setahun dua tahun telah saya jalani hidup baru sebagai seorang seminaris muda. Puji dan syukur saya haturkan kepadaNya karena selama itu saya tidak menjumpai hambatan dan rintangan yang berarti. Let it flow. Ya, saya membiarkan hidup dan diri saya mengalir begitu saja.
Berjalan dengan waktu, saya pun mengalami proses dinamika yang melemahkan semangat panggilan hidup saya di kelas 2 ini. Seolah-olah Salib yang saya panggul kini menjadi begitu berat luar biasa. Banyak persoalan intern maupun ekstern yang saya jumpai setahun belakangan ini dan cukup memberatkan posisi saya disini. Krisis kepercayaan terhadap diri sendiri, keluarga, sekolah, relasi dengan teman sekomunitas dan juga para pamong seminari. Kiranya ada banyak hal di luar sana yang menunggu saya untuk menjawabnya. Semua persoalan seakan seperti misteri. Mencoba mencocokkan kode demi kode untuk dipecahkan, tapi selalu bertemu kembali dgn sebuah tanda tanya besar. Keyakinan kadang tergoyahkan karena ketakutan mitos pribadi yang mengatakan bahwa optimistis yang terlalu tinggi biasanya akan mendapat jauh dari hal yang diharapkan. Maka kejadian selanjutnya akan berteman dgn kekecawaan. Tapi pesimistis juga sebuah sikap yang salah untuk mengejar kelegaan. Lalu bagaimanakah formula yang tepat?
Semakin hari, semakin banyak hal yg membuat jalan pikiran terbuka dan membuat saya terpacu untuk menjadi dewasa dalam mengatasi segala hal, termasuk persoalan. Mungkin belum sempurna, tapi cukup untuk menuju sebuah pendewasaan diri. Memulai untuk belajar menerima banyak hal yang semakin menunjukkan bahwa inilah sebuah dunia nyata!
Saya banyak merenung untuk jangka waktu yang cukup lama. Seperti ada sesuatu hal di luar sana yang menunggu saya. Entah apa, tapi kekuatannya sungguh besar. Dalam masa-masa ini, saya pun mencoba belajar untuk berpuasa dalam berkata-kata. Saya ingin lebih mendengarkan hati nurani. Namun karena itu saya justru menjadi terlalu menutup diri.
Benedictus Donny Gotawa
Sejarah Pangilan
Sejarah Panggilan
Sebagai bahan untuk retret kelas 2
Biodata
Nama : Joseph Biondi Mattovano
Tempat/Tanggal Lahir : Surakarta, 23 Januari 1991
Alamat : Jl. Sulawesi VI Blok A3 No.18 Sektor XIV Nusa Loka BSD City
Asal Paroki : Santa Monika, BSD City
Saya, Joseph Biondi Mattovano, anak sulung dari pasangan Yosef Tr Setyo Pribadi dengan Scholastika Indiyah Retno Cahyani Kumalasari. Saya adalah anak sulung laki-laki satu-satunya dari empat bersaudara. Kalau saya ditanya mengapa ingin menjadi seorang imam? Secara spontan saya akan menjawab bahwa keinginan itu mulai muncul ketika saya menjadi anggota Putra Altar di Paroki Santa Monika, BSD. Saya menjadi anggota putara altar ketika saya duduk di kelas 4 SD. Sebagai anggota, saya termasuk anggota yang paling rajin untuk bertugas dan menggantikan mereka yang berhalangan tugas. Setiap minggu dan hampir setiap misa saya bertugas menjadi putra altar. Karena saya rajin bertugas dan hampir tidak pernah alfa untuk menjadi putra altar, maka dalam misa besar seperti natal atau paskah, para pengurus selalu memasukkan nama saya ke dalam daftar tugas misa besar. Entah kenapa, setiap kali saya bertugas menjadi putra altar selalu terlintas dalam pikiran saya keinginan untuk menjadi seorang pastur. Melihat sosok seorang pastur Ordo Sancta Crucis(OSC) atau lebih dikenal dengan Ordo Salib Suci yang sangat bijaksana, dihormati dan pandai berbicara ketika berkhotbah, maka ketertarikan dan keinginan saya ini semakin hari semakin kuat dalam diri saya
Sampai pada akhirnya, saya mengungkapkan keinginan ini kepada kedua orang tua saya. Syukurlah, kedua orang tua saya sangat mendukung dan selalu mendoakan anaknya. Pada penghujung tahun kelas 3 SMP, saya memutuskan untuk mendaftarkan diri masuk seminari. Beberapa seminari seperti, Seminari Menengah Mertoyudan, Seminari Stella Maris Bogor, dan Seminari Menengah Wacana Bhakti menjadi pertimbangan saya. Kedua orang tua sayapun memberikan pilihan kepada saya. Akhirnya, saya memutuskan untuk mendaftar dan mengikuti tes gelombang I di Seminari Wacana Bhakti. Saat itu, semua teman saya telah mendaftar dan mengikuti tes di SMA-SMA pilihannya. Tetapi, saya hanya memutuskan untuk mendaftar dan mengikuti tes Seminari, tidak ada SMA lain yang saya pilih. Semua ini berkat niat dan keyakinan saya bahwa jika ini memang kehendak Tuhan, maka saya pasti diterima masuk seminari. Ternyata, Tuhan sungguh mendengar dan menjawab doa saya. Sebuah surat pernyataan yang menuliskan bahwa saya diterima di seminari membaut perasaan saya penuh dengan kegembiraan
Ketika menginjakkan kaki untuk pertama kalinya di seminari, muncul perasaan cemas dan sedikit grogi dalam hati saya. Perasaan ini yang membuat saya bertanya-tanya, “Seperti apa ya hidup berasrama di seminari yang notabene laki-laki semua?” Jujur, ini menjadi pengalaman pertama saya hidup berasrama. Kini saya mempunyai rumah yang baru dan keluarga yang baru, tentunya saya juga memiliki nama panggilan yang baru. Nama panggilan yang baru itu adalah Vano. Memasuki masa KPP, pergulatan yang saya alami adalah pergulatan yang seperti biasa dialami seorang anak yang baru pergi meninggalkan orang tuanya yaitu rasa rindu pada orang tua. Selain itu, masa KPP ini menjadi masa dimana saya juga harus mampu beradaptasi dengan lingkungan yang baru dan teman yang baru.
Setelah melewati masa KPP, saya harus memasuki masa yang baru di seminari, yaitu suatu masa dimana saya mempunyai komunitas yang baru lagi, yaitu SMA Gonzaga. Dalam komunitas yang baru ini saya juga harus beradaptasi supaya akhirnya saya menjadi bangga sebagai seorang seminaris. Bersyukurlah saya karena pada masa kelas 1 SMA ini saya tidak memiliki hambatan yang berarti dalam hal studi. Relasi dengan siswa-siswi SMA Gonzaga sudah mulai saya bangun, sehingga saya belajar banyak hal dari mereka dan merekapun juga belajar banyak hal dari kami, para seminaris. Ada hubungan timbal balik antara saya dengan teman-teman Gonzaga.
Setelah masa kelas 1 ini berakhir, angkatan kami yang berjumlah 10 orang saat itu masuk kelas 2. Angkatan kami ang berjumlah sepuluh orang dipecah menjadi 6 orang di kelas IPS dan 4 orang di Kelas IPA. Situasi angkatanpun menjadi berubah drastis ketika sudah dipecah. Kami saling berbagi cerita dan bertukar pikiran dalam angkatan. Pemisahan jurusan ternyata tidak mencerai beraikan tetapi malah saling menyatukan dan melengkapi.
Kelas 2 ini memang menjadi masa yang sibuk atau bisa dikatakan kelas 2 adalah tulangpunggung seminari, karena kami harus terlibat dalam berbagai kepanitiaaan inti. Kepanitiaan ini memang cukup menyita waktu kami, tetapi bagaimanapun juga kami harus pintar-pintar me’manage’ waktu dengan sebaik-baiknya. Karena keterlibatan kami ini, maka tidak menutup kemungkinan terjadi hubungan antara kami, panitia inti dengan para staff/pamanog. Pergulatan yang sering kali kami hadapi adalah munculnya suatu ketidak cocokkan antara pemikiran kami dengan staff. Mungkin apa yang dipikirkan oleh staff itu baik adanya tetapi dalam penyampaiannya sepertinya kurang dapat diterima oleh komunitas. Dari ketidakcocokkan ini, sebenarnya saya melihat mulai ada kerenggangan hubungan kami dengan staff.
Sepertinya saya pribadi juga merasa sedikit demi sedikit kehilangan figur seorang pendamping atau pamong pada masa kelas 2 ini. Untunglah, saya masih memiliki figure seorang pembimbing rohani yang baik dan mampu memberikan banyak ‘input’ kepada saya, yaitu romo rektor sendiri. Di tengah perjalanan kelas 2 ini, kami harus ditinggalkan oleh salah seorang anggota angkatan karena saya melihat kalau angkatan kami sepertinya juga kehilangan figure seorang pamong itu sendiri.
Sebagai bahan untuk retret kelas 2
Biodata
Nama : Joseph Biondi Mattovano
Tempat/Tanggal Lahir : Surakarta, 23 Januari 1991
Alamat : Jl. Sulawesi VI Blok A3 No.18 Sektor XIV Nusa Loka BSD City
Asal Paroki : Santa Monika, BSD City
Saya, Joseph Biondi Mattovano, anak sulung dari pasangan Yosef Tr Setyo Pribadi dengan Scholastika Indiyah Retno Cahyani Kumalasari. Saya adalah anak sulung laki-laki satu-satunya dari empat bersaudara. Kalau saya ditanya mengapa ingin menjadi seorang imam? Secara spontan saya akan menjawab bahwa keinginan itu mulai muncul ketika saya menjadi anggota Putra Altar di Paroki Santa Monika, BSD. Saya menjadi anggota putara altar ketika saya duduk di kelas 4 SD. Sebagai anggota, saya termasuk anggota yang paling rajin untuk bertugas dan menggantikan mereka yang berhalangan tugas. Setiap minggu dan hampir setiap misa saya bertugas menjadi putra altar. Karena saya rajin bertugas dan hampir tidak pernah alfa untuk menjadi putra altar, maka dalam misa besar seperti natal atau paskah, para pengurus selalu memasukkan nama saya ke dalam daftar tugas misa besar. Entah kenapa, setiap kali saya bertugas menjadi putra altar selalu terlintas dalam pikiran saya keinginan untuk menjadi seorang pastur. Melihat sosok seorang pastur Ordo Sancta Crucis(OSC) atau lebih dikenal dengan Ordo Salib Suci yang sangat bijaksana, dihormati dan pandai berbicara ketika berkhotbah, maka ketertarikan dan keinginan saya ini semakin hari semakin kuat dalam diri saya
Sampai pada akhirnya, saya mengungkapkan keinginan ini kepada kedua orang tua saya. Syukurlah, kedua orang tua saya sangat mendukung dan selalu mendoakan anaknya. Pada penghujung tahun kelas 3 SMP, saya memutuskan untuk mendaftarkan diri masuk seminari. Beberapa seminari seperti, Seminari Menengah Mertoyudan, Seminari Stella Maris Bogor, dan Seminari Menengah Wacana Bhakti menjadi pertimbangan saya. Kedua orang tua sayapun memberikan pilihan kepada saya. Akhirnya, saya memutuskan untuk mendaftar dan mengikuti tes gelombang I di Seminari Wacana Bhakti. Saat itu, semua teman saya telah mendaftar dan mengikuti tes di SMA-SMA pilihannya. Tetapi, saya hanya memutuskan untuk mendaftar dan mengikuti tes Seminari, tidak ada SMA lain yang saya pilih. Semua ini berkat niat dan keyakinan saya bahwa jika ini memang kehendak Tuhan, maka saya pasti diterima masuk seminari. Ternyata, Tuhan sungguh mendengar dan menjawab doa saya. Sebuah surat pernyataan yang menuliskan bahwa saya diterima di seminari membaut perasaan saya penuh dengan kegembiraan
Ketika menginjakkan kaki untuk pertama kalinya di seminari, muncul perasaan cemas dan sedikit grogi dalam hati saya. Perasaan ini yang membuat saya bertanya-tanya, “Seperti apa ya hidup berasrama di seminari yang notabene laki-laki semua?” Jujur, ini menjadi pengalaman pertama saya hidup berasrama. Kini saya mempunyai rumah yang baru dan keluarga yang baru, tentunya saya juga memiliki nama panggilan yang baru. Nama panggilan yang baru itu adalah Vano. Memasuki masa KPP, pergulatan yang saya alami adalah pergulatan yang seperti biasa dialami seorang anak yang baru pergi meninggalkan orang tuanya yaitu rasa rindu pada orang tua. Selain itu, masa KPP ini menjadi masa dimana saya juga harus mampu beradaptasi dengan lingkungan yang baru dan teman yang baru.
Setelah melewati masa KPP, saya harus memasuki masa yang baru di seminari, yaitu suatu masa dimana saya mempunyai komunitas yang baru lagi, yaitu SMA Gonzaga. Dalam komunitas yang baru ini saya juga harus beradaptasi supaya akhirnya saya menjadi bangga sebagai seorang seminaris. Bersyukurlah saya karena pada masa kelas 1 SMA ini saya tidak memiliki hambatan yang berarti dalam hal studi. Relasi dengan siswa-siswi SMA Gonzaga sudah mulai saya bangun, sehingga saya belajar banyak hal dari mereka dan merekapun juga belajar banyak hal dari kami, para seminaris. Ada hubungan timbal balik antara saya dengan teman-teman Gonzaga.
Setelah masa kelas 1 ini berakhir, angkatan kami yang berjumlah 10 orang saat itu masuk kelas 2. Angkatan kami ang berjumlah sepuluh orang dipecah menjadi 6 orang di kelas IPS dan 4 orang di Kelas IPA. Situasi angkatanpun menjadi berubah drastis ketika sudah dipecah. Kami saling berbagi cerita dan bertukar pikiran dalam angkatan. Pemisahan jurusan ternyata tidak mencerai beraikan tetapi malah saling menyatukan dan melengkapi.
Kelas 2 ini memang menjadi masa yang sibuk atau bisa dikatakan kelas 2 adalah tulangpunggung seminari, karena kami harus terlibat dalam berbagai kepanitiaaan inti. Kepanitiaan ini memang cukup menyita waktu kami, tetapi bagaimanapun juga kami harus pintar-pintar me’manage’ waktu dengan sebaik-baiknya. Karena keterlibatan kami ini, maka tidak menutup kemungkinan terjadi hubungan antara kami, panitia inti dengan para staff/pamanog. Pergulatan yang sering kali kami hadapi adalah munculnya suatu ketidak cocokkan antara pemikiran kami dengan staff. Mungkin apa yang dipikirkan oleh staff itu baik adanya tetapi dalam penyampaiannya sepertinya kurang dapat diterima oleh komunitas. Dari ketidakcocokkan ini, sebenarnya saya melihat mulai ada kerenggangan hubungan kami dengan staff.
Sepertinya saya pribadi juga merasa sedikit demi sedikit kehilangan figur seorang pendamping atau pamong pada masa kelas 2 ini. Untunglah, saya masih memiliki figure seorang pembimbing rohani yang baik dan mampu memberikan banyak ‘input’ kepada saya, yaitu romo rektor sendiri. Di tengah perjalanan kelas 2 ini, kami harus ditinggalkan oleh salah seorang anggota angkatan karena saya melihat kalau angkatan kami sepertinya juga kehilangan figure seorang pamong itu sendiri.
Sejarah Pangilan
Refleksi.
Saya Andreas Subekti, akrab di panggil Bekti. Kurang lebih hampir dua setengah tahun saya tinggal di seminari Wacana Bahkti. Sekarang saya tingkat tiga dan menjalani pendidikan di kelas dua.
Saya berasal dari paroki Kalvari, Lubang Buaya. Sebuah paroki yang masih mencari jati diri, karena usianya masih sangat muda dan masih dalam proses pembangunan yang mengalami sedikit hambatan. Banyak pengalaman yang saya rasakan selama saya berada di paroki sebelum saya masuk seminari.
Dulu saya aktif di misdinar paroki. Saya termasuk anggota yang cukup aktif. Dan dari semua misdinar yang mendaftarkan diri bersama saya. Pada akhirnya hanya saya yang tertinggal menjadi anggotanya, sampai akhirnya saya masuk seminari. Dari misdinar itulah muncul ketertarikan pada diri saya untuk menjadi seorang imam. Pada awalnya saya selalu memperhatikan saat imam membersihkan piala setelah digunakan. saya suka mengamati bagian itu karena melihat suatu bentuk pelayanan dan kerendahan hari seorang imam.
Saya juga mempunyai pengalaman yang bisa dikatakan agak mistis. Ketika saya duduk di kelas 3 SD, saya pernah bermimpi bahwa dirumah diadakan misa konselebrasi. Tiga orang imam datang untuk mempersembahkan ekaristi. Mimpi itu saya anggap tidak mempunyai makna apa-apa, semuanya berlalu sampai saya kelas 1 SMP. Saat saya mengulang memori mimpi itu saya mengingat-ingat. Saya merasakan bahwa mimpi itu benar-benar nyata. Saya sempat menanyakan pada orang tua apakah itu benar-benar nyata. Ternyata tidak pernah ada misa konselebrasi dirumah saya. Tetapi setelah saya mengingat-ingat, ternyata saya hanya mengingat 2 orang imam yang datang, yaitu kedua pastur paroki saya. Saya tidak pernah bisa mengingat seseorang pastur yang ketiga. Dari situ saya mengambil refleksi bahwa Tuhan memanggil saya untuk menjadi imam yang ketiga tadi, yang sampai sekarang tidak pernah saya ketahui siapakah dia.
Setelah dua setengah tahun berada di seminari, saya mulai tertarik dengan ordo-ordo yang ada. Pertama kali saya tertarik dengan Serikat Jesus, saya menyukai bahwa mereka bekerja dengan suka hati dan dengan semangat santo Ignatius. Tetapi seiring berjalannya waktu, saya mulai tertarik dengan imam diosesan. Mungkin ini pengaruh dari pastur paroki yang diganti dengan imam projo. Dan setelah saya membaca buku tentang imam diosesan, saya tertarik untuk menghadapi tantangan yang ada di Jakarta. Karena saya melihat bahwa Jakarta adalah kota yang memiliki banyak muka.
Kemarin baru saja saya live-in di daerah Tanah Abang. Saya meneliti tentang tempat prostitusi di Tanah Abang. Sementara saya melihat di Kali Malang ada umat yang tinggal di bantaran kali. Sementara di pusat kota banyak mall-mall berdiri dengan megahnya. Ini memperlihatkan bahwa Jakarta penuh tantangan. Dan saya sebagai anak Jakarta ingin mencoba menghadapi tantangan yang ada di kotaku sendiri.
Pergulatanku saat ini adalah mungkin setelah selama kurang lebih dua tahun tinggal bersama laki-laki. dan mulai kelas dua ini kami mulai digabungkan dengan lawan jenis. Karena saya juga remaja normal ada rasa ketertarikan dengan lawan jenis. Mungkin pergulatan saya saat ini adalah seperti itu. Ada rasa ingin diperhatikan oleh orang lain. Sepertinya saya belum menemukan cara yang ampuh untuk mengolah perasaan ini. Saya sudah sering berusaha untuk menyalurkan kegiatan yang lain. Tapi ya tetap saja ada perasaan yang mengusik. Saya menganggapi sebuah tantangan dalam panggilan. Dimana saya ditantang untuk mengolah perasaan saya ini. Karena ini adalah tantangan.
Saya Andreas Subekti, akrab di panggil Bekti. Kurang lebih hampir dua setengah tahun saya tinggal di seminari Wacana Bahkti. Sekarang saya tingkat tiga dan menjalani pendidikan di kelas dua.
Saya berasal dari paroki Kalvari, Lubang Buaya. Sebuah paroki yang masih mencari jati diri, karena usianya masih sangat muda dan masih dalam proses pembangunan yang mengalami sedikit hambatan. Banyak pengalaman yang saya rasakan selama saya berada di paroki sebelum saya masuk seminari.
Dulu saya aktif di misdinar paroki. Saya termasuk anggota yang cukup aktif. Dan dari semua misdinar yang mendaftarkan diri bersama saya. Pada akhirnya hanya saya yang tertinggal menjadi anggotanya, sampai akhirnya saya masuk seminari. Dari misdinar itulah muncul ketertarikan pada diri saya untuk menjadi seorang imam. Pada awalnya saya selalu memperhatikan saat imam membersihkan piala setelah digunakan. saya suka mengamati bagian itu karena melihat suatu bentuk pelayanan dan kerendahan hari seorang imam.
Saya juga mempunyai pengalaman yang bisa dikatakan agak mistis. Ketika saya duduk di kelas 3 SD, saya pernah bermimpi bahwa dirumah diadakan misa konselebrasi. Tiga orang imam datang untuk mempersembahkan ekaristi. Mimpi itu saya anggap tidak mempunyai makna apa-apa, semuanya berlalu sampai saya kelas 1 SMP. Saat saya mengulang memori mimpi itu saya mengingat-ingat. Saya merasakan bahwa mimpi itu benar-benar nyata. Saya sempat menanyakan pada orang tua apakah itu benar-benar nyata. Ternyata tidak pernah ada misa konselebrasi dirumah saya. Tetapi setelah saya mengingat-ingat, ternyata saya hanya mengingat 2 orang imam yang datang, yaitu kedua pastur paroki saya. Saya tidak pernah bisa mengingat seseorang pastur yang ketiga. Dari situ saya mengambil refleksi bahwa Tuhan memanggil saya untuk menjadi imam yang ketiga tadi, yang sampai sekarang tidak pernah saya ketahui siapakah dia.
Setelah dua setengah tahun berada di seminari, saya mulai tertarik dengan ordo-ordo yang ada. Pertama kali saya tertarik dengan Serikat Jesus, saya menyukai bahwa mereka bekerja dengan suka hati dan dengan semangat santo Ignatius. Tetapi seiring berjalannya waktu, saya mulai tertarik dengan imam diosesan. Mungkin ini pengaruh dari pastur paroki yang diganti dengan imam projo. Dan setelah saya membaca buku tentang imam diosesan, saya tertarik untuk menghadapi tantangan yang ada di Jakarta. Karena saya melihat bahwa Jakarta adalah kota yang memiliki banyak muka.
Kemarin baru saja saya live-in di daerah Tanah Abang. Saya meneliti tentang tempat prostitusi di Tanah Abang. Sementara saya melihat di Kali Malang ada umat yang tinggal di bantaran kali. Sementara di pusat kota banyak mall-mall berdiri dengan megahnya. Ini memperlihatkan bahwa Jakarta penuh tantangan. Dan saya sebagai anak Jakarta ingin mencoba menghadapi tantangan yang ada di kotaku sendiri.
Pergulatanku saat ini adalah mungkin setelah selama kurang lebih dua tahun tinggal bersama laki-laki. dan mulai kelas dua ini kami mulai digabungkan dengan lawan jenis. Karena saya juga remaja normal ada rasa ketertarikan dengan lawan jenis. Mungkin pergulatan saya saat ini adalah seperti itu. Ada rasa ingin diperhatikan oleh orang lain. Sepertinya saya belum menemukan cara yang ampuh untuk mengolah perasaan ini. Saya sudah sering berusaha untuk menyalurkan kegiatan yang lain. Tapi ya tetap saja ada perasaan yang mengusik. Saya menganggapi sebuah tantangan dalam panggilan. Dimana saya ditantang untuk mengolah perasaan saya ini. Karena ini adalah tantangan.
Langganan:
Postingan (Atom)


